Hari Arafah Waktu Mustajab Doa dan Puasa Sunnah
- 26 Mei 2026 11:41 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam, terutama bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Ibadah yang dilaksanakan setiap 9 Dzulhijjah itu kerap disebut sebagai momentum istimewa untuk memperbanyak amal, doa, dan zikir.
Dalam kajian yang disampaikan Buya Yahya, Puasa Arafah memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Ia menjelaskan, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang keutamaan puasa pada Hari Arafah. Nabi Muhammad SAW kemudian menyebutkan bahwa puasa tersebut menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang bagi orang yang menjalankannya dengan penuh keikhlasan.
Menurut Buya Yahya, meski tidak semua umat Islam memiliki kesempatan hadir di Tanah Suci untuk menunaikan wukuf di Padang Arafah, keberkahan Hari Arafah tetap dapat diraih melalui puasa dan ibadah lainnya. Kerinduan seorang muslim untuk bisa berada di Tanah Suci, disertai niat tulus beribadah, juga menjadi bagian dari ketakwaan yang diketahui Allah SWT.
Selain menahan lapar dan dahaga, Hari Arafah juga dianjurkan menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak doa. Buya Yahya mengutip hadis Nabi yang menyebutkan bahwa sebaik-baik doa adalah doa yang dipanjatkan pada Hari Arafah. Momentum ini dinilai menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memohon ampunan, keberkahan hidup, serta kekuatan iman.
Hari Arafah juga berada dalam rangkaian sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang sangat dimuliakan. Pada hari-hari itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Bacaan seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, dan Allahu Akbar menjadi bentuk penghambaan yang dapat menghidupkan hati seorang muslim.
Buya Yahya juga menggambarkan suasana wukuf di Padang Arafah sebagai momen spiritual yang begitu menyentuh. Menjelang sore, jutaan jamaah haji larut dalam doa dan munajat dengan penuh kekhusyukan. Pemandangan itu menjadi simbol kepasrahan seorang hamba yang berharap ampunan dan rahmat Allah SWT.
Melalui Puasa Arafah, umat Islam tidak hanya diajak menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga membersihkan jiwa, memperkuat ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Buya Yahya berharap umat Islam yang belum sempat mengamalkannya tetap menanamkan niat dan semangat untuk melaksanakannya di masa mendatang, sebab setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....