Kisah Ulama Bani Israil dan Khidmat Penuh Hikmah
- 25 Mei 2026 14:36 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Solo – Sebuah kisah penuh hikmah dari kitab Idzahul Asror mengingatkan bahwa ibadah tidak hanya soal popularitas, ilmu, atau banyaknya pengikut, tetapi juga ketulusan hati dan manfaat bagi sesama.
Dalam ceramah yang dikutip dari kanal YouTube Ustaz Muhammad Al Habsyi, Senin 25 Mei 2026, Habib Muhammad menceritakan tentang seorang ulama pada masa Bani Israil yang dikenal sangat masyhur. Namanya tersebar luas, ilmunya dipelajari banyak orang, dan kitabnya dikenal di berbagai tempat.
Namun di balik kemasyhuran itu, Allah SWT mewahyukan kepada nabi pada masa tersebut agar menyampaikan bahwa ulama itu belum mendapat rida-Nya. Bahkan, ia disebut memenuhi bumi dengan kemunafikan.
Kabar itu mengguncang batin sang ulama. Ia menghentikan seluruh aktivitas mengajar, menutup majelis ilmunya, lalu pergi ke gunung untuk beribadah, bermunajat, dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Setelah sekian lama beribadah, wahyu kembali datang. Namun, Allah SWT masih belum meridai dirinya. Hal itu membuat sang ulama semakin larut dalam tangis, penyesalan, dan introspeksi mendalam.
Dalam keheningan itu, ia kemudian memperoleh ilham. Sang ulama turun dari gunung dan mulai menjalani hidup dengan cara berbeda. Ia tak hanya beribadah secara pribadi, tetapi terjun melayani masyarakat.
Ia membantu orang-orang di pasar, membawakan barang milik orang lain, bersikap rendah hati, menolong sesama, serta hadir bagi masyarakat dengan penuh kepedulian. Dari pelayanan sederhana itulah, ia mulai menemukan makna pengabdian yang sesungguhnya.
Akhirnya, Allah SWT kembali mewahyukan kepada nabi pada masa itu bahwa ulama tersebut telah memperoleh rida-Nya dan menjadi hamba yang istimewa di sisi Allah.
Melalui kisah ini, Habib Muhammad mengajak umat Islam untuk memahami jalan menuju rida Allah tidak selalu melalui perkara besar. Kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas juga dapat menjadi amal mulia.
“Misalnya, jika ada tetangga yang wafat, datang lebih dulu membantu menata kursi, menggelar karpet, atau membantu keluarga yang berduka. Itu bentuk khidmat sederhana yang bisa bernilai besar di sisi Allah,” ujar Habib Muhammad.
Ia menambahkan, membantu orang tua membawa barang, menuntun orang menyeberang jalan, atau menolong mereka yang sedang kesulitan merupakan bentuk pelayanan sosial yang sederhana namun penuh keberkahan.
Kisah ini menjadi pengingat kemuliaan tidak hanya lahir dari ilmu dan popularitas, tetapi juga dari kerendahan hati, ketulusan, dan manfaat nyata bagi sesama. Dari khidmat kecil, seseorang bisa menjemput rida Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....