Tiga Golongan Ahli Surga Menurut Islam
- 13 Mei 2026 08:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Terdapat tiga golongan ahli surga yang dijelaskan dalam kajian keislaman oleh KH. Nur Hasanuddin. Salah satunya adalah pemimpin yang adil dan amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Dilansir dari kanal YouTube Al Wafa Tarim, Rabu 13 Mei 2026, KH. Nur Hasanuddin menjelaskan, menjadi pemimpin yang adil merupakan perkara yang sangat berat. Menurutnya, ukuran keadilan seorang pemimpin dapat bercermin kepada keteladanan Sayidina Umar bin Khattab dan Sayidina Abdullah bin Umar. “Masih ingat cerita tentang Sayidina Umar,” kata KH. Nur Hasanuddin.
Ia menuturkan, Sayidina Umar pernah memikul sendiri pasir dan tanah untuk menutup jalan yang berlubang. Ketika ditanya alasannya, Sayidina Umar mengaku khawatir ada kambing yang terperosok dan dirinya harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT.
Selain itu, KH. Nur Hasanuddin juga mencontohkan sikap amanah Sayidina Abdullah bin Umar dalam menggunakan fasilitas negara. Saat bekerja mengurus kepentingan umat pada malam hari, beliau selalu memastikan apakah pembicaraan yang dilakukan termasuk urusan negara atau urusan pribadi.
Jika pembicaraan tersebut bersifat pribadi, lampu di ruang kerjanya dimatikan karena minyak untuk penerangan berasal dari uang rakyat. “Sedangkan kamu sekarang mau berbicara urusan pribadi, maka tidak semestinya kita memakai uang rakyat. Subhanallah,” ujar KH. Nur Hasanuddin.
Menurutnya, sikap tersebut menjadi contoh nyata golongan pertama penghuni surga, yakni pemimpin yang adil dan selalu berusaha meraih rida Allah SWT.
Golongan kedua adalah laki-laki dan perempuan Muslim yang memiliki kasih sayang terhadap sesama. Sikap ini meneladani sifat Nabi Muhammad SAW yang penuh kelembutan dan kasih sayang kepada umatnya.
KH. Nur Hasanuddin mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Laqad jaa'akum rasulun min anfusikum 'aziizun 'alaihi maa 'anittum hariishun 'alaikum bil mu'miniina raufur rahiim". Artinya, Nabi Muhammad SAW sangat peduli dan penuh kasih sayang kepada orang-orang mukmin.
Sementara golongan ketiga adalah orang yang menjaga kehormatan diri dan keluarganya serta tidak gemar meminta-minta meski hidup dalam keterbatasan. “Anaknya banyak, keadaan pas-pasan, tetapi pantang meminta-minta,” ujar KH. Nur Hasanuddin.
Ia menegaskan, menjaga kehormatan diri bukan berarti menjaga gengsi. Sikap tersebut justru mencerminkan kemuliaan akhlak sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an, di mana sebagian orang tampak seperti berkecukupan karena tidak pernah meminta-minta, padahal sebenarnya hidup dalam kekurangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....