Tren Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Anak Muda Samarinda
- 12 Mei 2026 13:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Fenomena penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya penggunaan narkotika identik dengan alat konvensional seperti bong atau pil ekstasi, kini tren mulai bergeser menggunakan vape atau rokok elektrik yang diisi cairan mengandung narkotika.
Dokter Ahli Muda BNN Kota Samarinda, Candra Ramadhanny, menilai perubahan pola tersebut mulai terlihat di Kota Samarinda, terutama di kalangan anak muda. Meski tren penggunaan narkoba secara umum mengalami penurunan, bentuk penyalahgunaannya kini berkembang mengikuti gaya hidup dan perkembangan teknologi.
“Tren penyalahgunaan narkoba umumnya turun. Cuma yang berganti atau bertransformasi adalah bentuk penggunaannya. Kalau dulu mungkin pakai alat, pakai botol, pakai bong. Tapi sekarang ada tren yang namanya pot getar atau vape,” ujarnya dalam obrolan SPADA Pro2 Samarinda, dikutip Selasa 12 Mei 2026.
Ia menerangkan, vape sejatinya merupakan media netral untuk merokok. Namun, belakangan alat tersebut disalahgunakan dengan mengisi cairan mengandung narkotika. Menurutnya, legalitas vape membuat peredarannya mudah ditemukan di masyarakat. Kondisi tersebut dimanfaatkan sebagian pihak untuk menyalahgunakan isi cairannya.
“Vape itu netral. Vape itu perantara media untuk merokok dengan cara lain. Tapi ternyata tren akhir ini media ini disalahgunakan sebagai pemakaian narkotika jenis cair, Karena termasuk legal sebenarnya vape ini. Cuma isinya kadang disalahgunakan dengan diisi jenis-jenis narkotika cair,” katanya.
Psikiater ini juga menyebut fenomena vape narkotika kini menjadi salah satu pola penyalahgunaan terbaru di kalangan pengguna muda. “Dulu mungkin kita kenalnya orang pakai ekstasi dan lain-lain. Sekarang vape. Vape sekarang istilahnya macam-macam, salah satunya pot getar,” ucapnya.
Meski demikian, ia menegaskan tren penggunaan narkoba secara umum tetap mengalami penurunan. “Kalau secara umum semua pemakaian narkoba trennya mesti menurun,” ujarnya.
Selain perubahan pola penggunaan, Candra juga menyoroti faktor utama anak muda mudah terjerumus narkoba. Ia menilai kondisi emosional dan ketidakmampuan menghadapi rasa tidak nyaman menjadi pemicu awal.
“Awal mulanya memang secara umum kadang ada ketidakmampuan untuk merasakan yang tidak nyaman. Ketika seseorang mengalami kesulitan, tidak nyaman, kesepian misalnya, dia butuh sesuatu untuk menutupi rasa tidak nyamannya itu,” katanya.
Menurutnya, penggunaan narkoba kerap dijadikan pelarian sementara dari tekanan hidup. Efek yang dirasakan hanya bersifat sesaat dan memicu ketergantungan berulang.
“Iya, awalnya memang menghilangkan. Tapi itu short term, cuma singkat. Kita kayak meminjam kesenangan di masa depan untuk sekarang. Besok-besok kesenangannya habis, tinggal penderitaan yang bikin dia ingin pakai lagi, begitu terus,” katanya.
Candra juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberi stigma kepada pengguna narkoba yang ingin pulih. Ia menilai penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan pengaruh propaganda dan misinformasi yang menyasar generasi muda.
Ia meminta masyarakat tidak memandang rehabilitasi sebagai aib. Menurutnya, penanganan penyalahgunaan narkoba memerlukan dukungan bersama. “Kalau misalnya ada yang ingin berhenti tapi malu, takut distigma atau dijudge macam-macam, enggak usah malu. Kita perlu saling melindungi, saling membantu,” ujarnya.
Ia menambahkan, sosialisasi terkait narkotika dalam vape dilakukan sebagai langkah perlindungan masyarakat dari ancaman penyalahgunaan narkoba yang terus berkembang. “Ketika BNN mengumumkan vape itu ada narkotika, tujuannya sebenarnya untuk melindungi kita dari perang yang enggak tampak,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....