Perempuan Samarinda Dinilai Miliki Peluang Besar Menjadi Pemimpin

  • 09 Mei 2026 18:25 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kesempatan perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan di Kota Samarinda dinilai semakin terbuka seiring meningkatnya ruang partisipasi publik bagi perempuan di berbagai sektor. Namun, keterlibatan tersebut dinilai masih bergantung pada kesadaran perempuan untuk berani terlibat dan mengambil bagian dalam proses perubahan sosial maupun politik.

Dalam kegiatan Sekolah Politik yang diselnggarakan Voice Of Democracy indonesia (Vodem.id) Perempuan bertajuk “Dari Suara Perempuan Menuju Kebijakan”, isu kepemimpinan perempuan menjadi salah satu pembahasan utama. Ruang publik saat ini dinilai telah memberikan akses yang lebih luas bagi perempuan untuk berpartisipasi, mulai dari dunia pendidikan, sosial, ekonomi hingga pengambilan kebijakan. Hal ini dikatakan Akademisi UINSI, Rega Armella kepada rri.co.id Sabtu 9 Mei 2026 di NutriHub Samarinda New jl. Juanda 4 No. 91.

“Peran perempuan di Samarinda dalam mengambil kesempatan untuk memimpin saya rasa banyak sekali karena saat ini di ruang-ruang publik kesempatan untuk berpartisipasi, bermanfaat, akses, kemudian bagian controlling juga sangat terbuka. Tinggal bagaimana perempuan secara sadar mau atau tidak terlibat dalam dunia politik dan punya kesadaran untuk membuat perubahan,” ujar Rega yang juga pemenang Gender Champion Samarinda 2025.

Menurut Rega, kesadaran untuk mengambil peran menjadi faktor penting agar perempuan tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan daerah. Ia menilai perempuan memiliki peluang besar untuk berkontribusi sesuai bidang yang dimiliki, baik sebagai akademisi, pendidik, pelaku ekonomi hingga pekerja kreatif.

Selain membahas kepemimpinan perempuan, kegiatan tersebut juga menyoroti pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak. Rega menilai persoalan kekerasan seksual dan pelecehan masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki.

Ia menyebut masih banyak kasus kekerasan seksual yang melibatkan kelompok rentan seperti perempuan dan anak. Karena itu, menurutnya tanggung jawab menciptakan ruang aman harus menjadi kesadaran sosial bersama agar lingkungan publik menjadi lebih inklusif dan aman.

“Perempuan dan laki-laki harus selaras berjalan bersama untuk menciptakan ruang aman bagi semua kalangan. Ini bukan hanya tanggung jawab perempuan saja, tetapi tanggung jawab sosial bersama,” katanya.

Foto bersama setelah kegatan Sekolah Politik Perempuan bertajuk “Dari Suara Perempuan Menuju Kebijakan”. (Foto: RRI/NK)

Rega juga menyoroti pentingnya literasi digital dalam mencegah kekerasan berbasis online terhadap perempuan. Ia mengatakan perkembangan teknologi dan media sosial harus dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bentuk pelecehan dan kekerasan seksual agar masyarakat lebih berani bersikap ketika menemukan kasus di ruang digital.

Menurutnya, keberanian untuk bersuara atau speak up menjadi langkah penting dalam mencegah kekerasan seksual berbasis online. Sebab, jika masyarakat hanya menjadi penonton dan membiarkan tindakan tersebut terjadi, maka upaya pencegahan tidak akan berjalan maksimal.

Dalam kesempatan itu, Rega turut mengajak perempuan di Samarinda untuk lebih percaya diri mengambil peluang dan membangun kontribusi dari lingkungan terdekat. Ia menilai perubahan tidak akan terjadi jika perempuan hanya bertahan di zona nyaman tanpa keberanian untuk bergerak.

“Kesadaran yang paling kita butuhkan adalah berani melangkah untuk memanfaatkan apa yang kita punya, relasi yang kita punya, dan pengetahuan yang kita punya untuk berkontribusi,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....