Bahaya Gibah dan Hikmah Sabar Menghadapinya Menurut Ulama

  • 05 Mei 2026 07:55 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Malang — Mengkaji akhlak para salafus saleh menjadi pelajaran penting dalam menjaga lisan, terutama dari perbuatan gibah. Dalam majelis mereka, gibah sangat dihindari karena termasuk kemaksiatan yang dibenci dan dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Melalui kanal YouTube AlWafa Tarim, Al Habib Jamal bin Thoha Ba'agil menyampaikan pandangan para ulama tentang bahaya gibah serta sikap yang seharusnya diambil oleh seorang Muslim.

Ia mengutip perkataan Atha Al-Khurasani yang menasihatkan agar seseorang tidak sakit hati ketika digibah. Menurutnya, orang yang menggibah justru tanpa sadar sedang memberikan keuntungan kepada orang yang dibicarakan.

“Dengan gibah, kebaikan orang yang digibahi akan bertambah, sementara dosa pelaku gibah justru meningkat,” ujar Habib Jamal.

Secara fitrah, seseorang memang merasa tidak terima ketika aibnya dibicarakan. Namun, sikap terbaik adalah bersabar dan tidak membalas dengan kebencian. Membiarkan gibah terjadi tanpa reaksi negatif justru menjadi ladang pahala bagi orang yang digibahi.

Ia menegaskan, membalas gibah dengan gibah hanya akan memperburuk keadaan. Jika seseorang memilih diam, maka ia akan mendapatkan keuntungan, sementara pelaku gibah menanggung kerugian, baik di dunia maupun di akhirat.

Fenomena gibah juga marak terjadi di media sosial. Ketika seseorang melakukan kesalahan lalu menjadi viral, tidak jarang warganet justru memperparah keadaan dengan caci maki dan hinaan. Padahal, tindakan tersebut bisa berbalik merugikan pelaku gibah sendiri.

Menurutnya, jika ingin menghentikan kesalahan orang lain, langkah yang tepat adalah menasihati dengan baik, bukan mencela atau mempermalukan. Bahkan, bila perlu, hindari konten yang memicu gibah agar tidak terjerumus dalam dosa yang sama.

Dari penjelasan tersebut, terdapat beberapa hikmah yang dapat diambil. Pertama, bersabar saat digibah karena hal itu dapat menggugurkan dosa. Kedua, menjaga lisan agar tidak merugikan diri sendiri dengan menggibah orang lain.

Habib Jamal juga mengingatkan kesalehan seseorang belum sempurna hingga ia mampu bersikap tenang saat menjadi bahan pembicaraan orang lain. Reaksi marah dan balasan buruk justru menunjukkan kesabaran dan keikhlasan masih perlu diperbaiki.

Sebagai penutup, ia mengajak untuk mendoakan orang-orang yang menggibah agar diberi hidayah dan ampunan oleh Allah, sehingga hubungan sesama tetap terjaga dalam kebaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....