Keutamaan Diam: Menjaga Kehormatan di Era Digital

  • 04 Mei 2026 05:50 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda: Di tengah keriuhan dunia yang memaksa setiap orang untuk terus bersuara, diam sering kali dianggap sebagai sebuah kelemahan. Seolah menyiratkan siapa yang bersuara lantang, itulah yang menang. Suara pun tidak lagi hanya keluar dari mulut tetapi juga melalui ketikan jemari di media sosial. Ramainya ketikan saling hasut dan ujaran kebencian melalui dunia maya, seolah menjadi pemandangan biasa di masa kini.

Dalam siaran Mutiara Pagi Pro1 RRI Samarinda, Ustaz Muhammad Khozin, menyampaikan sabda Rasulullah SAW, yaitu keselamatan seorang hamba sesungguhnya terletak pada kemampuannya untuk diam. Dalam kitab Tanqihul Qaul yang ditulis Syekh Nawawi Albantani mengajarkan meski diam tidak memberikan pahala secara langsung, tindakan tersebut mampu menyelamatkan seseorang dari siksa Allah.

"Mari kita upayakan untuk tidak perlu banyak bicara dalam konteks kekinian. Kita tidak perlu banyak menggugah status di media sosial," kata Ustaz Khozin, dikutip Senin 4 Mei 2026.

Kewaspadaan dalam berucap menjadi krusial karena setiap kata yang berlebihan berpotensi memicu kesalahan dan tumpukan dosa yang berbahaya. Menjaga lisan kini meluas hingga ke ranah digital, di mana jemari manusia sering kali lebih aktif daripada ucapannya melalui unggahan di media sosial.

Filosofi "Diam adalah Emas" dikatakan Ustaz Khozin sebagai pedoman etika berkomunikasi yang sangat tinggi nilainya. Diam disebut mengandung 7.000 kebaikan yang terangkum dalam tujuh pilar keutamaan bagi kehidupan manusia. Ketujuh hal tersebut meliputi diam sebagai ibadah tanpa usaha, perhiasan tanpa permata, kemuliaan tanpa raja, hingga benteng kokoh yang tidak membutuhkan penjaga.

"Jika bicara merupakan bagian dari perak, maka diam adalah emas," ujarnya.

Selain itu, diam juga membebaskan seseorang dari kewajiban mencari alasan di hadapan manusia. Diam akan memberikan kemuliaan di sisi malaikat, serta menjadi tabir penutup aib. Semua manfaat ini menjadi bukti bahwa menahan diri dari bicara yang sia-sia adalah jalan pintas menuju kemuliaan diri yang terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....