Membangun Empati, Menguatkan Inklusi di tengah Masyarakat Samarinda

  • 28 Apr 2026 08:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pada tanggal 2 April lalu, dunia memperingati Hari Autis Internasional sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran tentang autisme. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat bahwa individu dengan autisme merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Mereka memiliki hak yang sama untuk hidup, berkembang, serta mendapatkan penghargaan atas martabatnya. Dalam konteks ini, pendekatan kemanusiaan menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan berempati.

Autisme bukan hanya sebuah kondisi medis, melainkan juga bentuk keberagaman dalam cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi. Hal ini ditegaskan pelaksana program Preschool Skill di Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) Samarinda, Muhammad Pakoni Semedi, kepada RRI. Menurutnya, pendidikan harus berjalan tanpa diskriminasi antara anak disabilitas dan non-disabilitas.

“Pernyataan tersebut menekankan pentingnya kesetaraan dalam akses pendidikan bagi semua anak, termasuk mereka yang berada dalam spektrum autism”, ujarnya, dikutip Selasa 28 April 2026.

Dalam praktiknya, tantangan menuju pendidikan inklusif masih kerap ditemukan. Pakoni menjelaskan, di lapangan masih ada anak-anak yang mengalami penolakan di sekolah tertentu. Meski demikian, ia menambahkan saat ini sistem pendidikan terus bergerak menuju inklusivitas, di mana setiap sekolah diharapkan mampu menerima dan mendukung kebutuhan anak berkebutuhan khusus tanpa diskriminasi.

“Peran orang tua juga menjadi kunci penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dengan autism,” katanya menambahkan.

Ia menambahkan, inklusi bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Lingkungan sosial yang suportif akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional dan sosial anak dengan autisme.

Sementara itu, salah seorang ibu dengan dua anak autis, Novita Abu Kandariah, mengatakan tantangan terbesar terletak pada proses sosialisasi. Ia menjelaskan pendekatan bertahap, pendampingan intensif, serta komunikasi dengan guru dan lingkungan sekolah sangat membantu anak-anaknya dalam beradaptasi. Kisah ini menjadi inspirasi bahwa dengan kesabaran dan strategi yang tepat, anak dengan autisme dapat berkembang secara optimal.

Di sisi lain, penggerak program disabilitas dan inklusi di Samarinda, Nurul Widayani, mengungkapkan masih banyak keluarga yang belum terbuka mengenai kondisi anak mereka. Faktor stigma sosial sering kali menjadi penghalang utama. “Edukasi masyarakat perlu terus digencarkan agar tidak ada lagi rasa malu atau takut dalam menerima kondisi anak dengan autism,” ucapnya.

“Dukungan dari lembaga seperti Pusat Layanan Disabilitas sangat membantu dalam proses pendidikan anak saya,” katanya.

Ia mendapatkan rekomendasi sekolah yang tepat sehingga proses pendaftaran berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Hal ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara orang tua, lembaga pendidikan, dan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....