Perjuangan KH Mahfud Amin Mendirikan Ponpes Ibnul Amin

  • 08 Jun 2026 17:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Berdirinya Pondok Pesantren Ibnul Amin di Desa Pamangkih, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, tidak terlepas dari tekad dan perjuangan panjang KH Mahfud Amin dalam memajukan pendidikan Islam. Keinginan mendirikan pesantren lahir dari berbagai dorongan yang menjadi landasan kuat dalam perjalanan dakwah dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Dilansir dari kanal YouTube Ibnul Amin TV, Senin 8 Juni 2026, KH Muhammad Rabbani dalam pembacaan manakib KH Mahfud Amin mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang mendorong berdirinya pesantren tersebut adalah wasiat orang tua beliau. Sang ayah berpesan agar pendidikan agama terus berkembang dan melampaui capaian yang telah ada pada masanya.

"Wasiat inilah yang memicu semangat beliau untuk terus berinovasi dalam pendidikan agama," ujar KH Muhammad Rabbani.

Dorongan lainnya datang dari guru beliau, KH Abu Bakar bin Sulaiman Tambun Jakarta. Saat berkunjung ke Desa Pamangkih, sang guru melihat masih banyak lahan kosong dan menyarankan agar segera didirikan pondok pesantren, meskipun dalam bentuk yang sederhana. Nasihat tersebut semakin menguatkan tekad KH Mahfud Amin untuk membangun pusat pendidikan Islam di kampung halamannya.

Selain itu, pengalaman menuntut ilmu di Makkah Al-Mukarramah turut memengaruhi pandangannya tentang pentingnya keberadaan pesantren. Selama berada di Tanah Suci, beliau banyak berdiskusi dengan rekan-rekan dari Jawa dan Sumatra mengenai sistem pendidikan pesantren yang berkembang di daerah masing-masing.

Tekad tersebut kemudian diwujudkan melalui musyawarah bersama 17 muridnya. Mereka sepakat mengumpulkan modal dari hasil penjualan lima belek padi per orang untuk membeli bahan bangunan. Dari hasil gotong royong itu, berdirilah dua asrama sederhana berukuran 3,5 meter x 15,5 meter yang terdiri atas enam kamar, serta sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai dapur santri.

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri yang datang terus bertambah. Popularitas Pondok Pesantren Ibnul Amin semakin meluas sehingga kebutuhan akan asrama dan fasilitas pendidikan juga meningkat. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pembangunan pesantren terus dilakukan secara bertahap.

Perhatian KH Mahfud Amin terhadap pendidikan tidak hanya ditujukan bagi kaum laki-laki. Pada 1975, beliau mendirikan pondok pesantren putri sebagai upaya membuka akses pendidikan agama yang lebih luas bagi perempuan. Langkah ini menjadi terobosan penting dalam mencetak generasi muslimah yang salehah, berilmu, dan berperan aktif di tengah masyarakat.

Selain dikenal sebagai pendidik dan ulama, KH Mahfud Amin juga merupakan sosok yang disiplin, tekun, dan produktif dalam berkarya. Di tengah kesibukannya mengembangkan pesantren, beliau tetap meluangkan waktu untuk menulis sejumlah kitab yang digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi para santri.

Beberapa karya yang pernah ditulis antara lain kitab Tasrif yang banyak disalin oleh santri sebagai latihan menulis, kitab berbahasa Arab Mukhtasar Hallil Ma'qumil Maqsud dalam bidang ilmu sharaf, serta kitab ilmu falak berjudul Al-Mahlulah fi Mukhtasaril Manhajil Hamidiyah. Kepeduliannya terhadap ilmu falak menunjukkan luasnya wawasan keilmuan yang dimiliki sekaligus komitmennya dalam mengembangkan berbagai cabang ilmu Islam.

Melalui dedikasi, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, KH Mahfud Amin berhasil membangun Pondok Pesantren Ibnul Amin menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh. Warisan perjuangannya tidak hanya melahirkan generasi berilmu dan berakhlak, tetapi juga menjadi tonggak penting perkembangan dunia pesantren di Kalimantan Selatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....