Akademisi Polnes Samarinda Bagikan Tips Bangun Rumah Aman Bencana

  • 23 Apr 2026 11:55 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konstruksi rumah tahan bencana di Samarinda dinilai masih rendah. Banyak warga lebih mengutamakan tampilan dibanding kekuatan struktur bangunan.

Arsitek sekaligus Ketua Jurusan Desain Politeknik Negeri Samarinda, Hatta Musthafa, saat menjadi narasumber obrolan SPADA Pro2 Samarinda, menilai kecenderungan tersebut berisiko memicu kerusakan saat bencana terjadi.

“Memang kebanyakan sekarang itu orang lebih mengutamakan look secara eksteriornya, eksterior interiornya. Kadang mereka sampai enggak tahu pondasi awalnya itu apakah sudah kokoh atau enggak,” ujarnya, Rabu 22 April 2026.

Ia menjelaskan, kondisi struktur rumah tidak selalu bisa dikenali dari tampilan luar. Kerusakan umumnya baru terlihat beberapa bulan setelah bangunan berdiri.

“Jadi setelah rumah itu dibangun, biasanya enam bulan setelah rumah itu dibangun baru ketahuan masalahnya. Oh ini mulai retak di sini, oh ini mulai keramiknya turun, ada patah sebagian. Jadi rata, terus tiba-tiba turun ada retakannya. Nah, ini berarti tanahnya bergerak di bawah,” katanya.

Menurut dia, karakter tanah di Samarinda didominasi dua jenis, yakni lempung dan pasir. Kondisi ini memengaruhi stabilitas bangunan, terutama saat musim hujan.

“Kalau tanahnya berpasir, ketika kena air hujan itu lebih cepat tergerus,” ucapnya.

Ia menekankan pentingnya penyesuaian desain rumah dengan kondisi lingkungan. Salah satu langkah utama yakni pengelolaan air hujan di area rumah masing-masing.

“Kita harus benar-benar tahu bahwa hujan itu jangan semata-mata kita buang ke parit di depan rumah. Kita harus tampung. Jadi kita memang harus siapkan tempat penampungan airnya supaya beban di depan itu enggak bikin banjir,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebiasaan membuang air ke drainase umum berpotensi memperparah banjir di wilayah yang lebih rendah.

“Kalau semua orang melimpahkan beban banjirnya ke parit di depan, efeknya rumah yang lebih rendah posisinya pasti kebanjiran. Tapi kalau semuanya menyimpan masing-masing, punya area resapannya masing-masing, itu akan sangat membantu daerah-daerah yang rendah supaya enggak kena banjir,” katanya.

Selain pengelolaan air, aspek pondasi juga menjadi kunci utama. Ia menyarankan penggunaan pondasi pancang hingga mencapai tanah keras.

“Desain rumah yang paling cocok di Samarinda itu pondasinya harus dipancang sampai ke tanah keras,” ujarnya.

Menurut dia, kedalaman pondasi harus diperhatikan meski bangunan hanya satu lantai.

“Meskipun itu rumah satu lantai harus dipancang pakai ulin sampai ke tanah keras. Karena tanah Samarinda itu yang bermasalah. Kalau dia cuma dangkal, cuma pakai pondasi batu gunung saja, terus tanahnya tergerus, turun dia. Tapi kalau dipancang sampai ke tanah kerasnya, dia akan tetap stabil,” ucapnya.

Ia menilai konsep tersebut menjadi solusi praktis untuk meminimalkan risiko kerusakan akibat longsor maupun pergerakan tanah di Samarinda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....