Anak dalam Perspektif Al-Qur’an: Amanah, Ujian, dan Harapan Orang Tua

  • 23 Apr 2026 09:16 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Anak dalam perspektif Al-Qur’an dipandang sebagai amanah besar yang memiliki makna luas, tidak hanya sebagai anugerah, tetapi juga sebagai ujian dan tanggung jawab yang menentukan arah masa depan generasi. Al-Qur’an memberikan panduan yang jelas bagi orang tua dalam memahami, mendidik, dan membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah, sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Pembahasan ini mengemuka dalam siaran program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Samarinda, edisi Minggu, 19 April 2026, yang menghadirkan tausiah bersama Ustadz Kyai Ir. Masumi dari Muhammadiyah Kota Samarinda. Dalam kesempatan tersebut, ia menguraikan bagaimana Al-Qur’an menempatkan anak dalam perspektif yang komprehensif dan penuh makna.

Menurut Ustadz Masumi, anak dalam Al-Qur’an tidak ditempatkan dalam satu sudut pandang saja, melainkan memiliki spektrum makna yang luas. Ia menyebut setidaknya ada empat dimensi utama yang menggambarkan posisi anak dalam kehidupan, yaitu sebagai penyejuk hati, perhiasan dunia, ujian, dan bahkan berpotensi menjadi musuh.

Dimensi pertama adalah anak sebagai penyejuk hati atau qurrata a’yun, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Anak yang taat kepada Allah, berakhlak baik, serta berbakti kepada orang tua akan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarga. Namun, hal ini tidak terjadi secara otomatis tanpa proses pendidikan yang konsisten.

Selanjutnya, anak juga disebut sebagai perhiasan dunia dalam Surah Al-Kahfi ayat 46. Dalam konteks ini, anak adalah sesuatu yang berharga dan membanggakan. Meski demikian, orang tua diingatkan untuk menjaga keseimbangan dalam mendidik, agar tidak terjebak pada sikap memanjakan berlebihan atau terlalu mengekang yang justru berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Dimensi ketiga menempatkan anak sebagai ujian kehidupan. Dalam sejumlah ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa harta dan anak merupakan cobaan yang akan menguji kesungguhan orang tua dalam mendidik. Keberhasilan pendidikan akan terlihat dari karakter dan ketakwaan anak dalam menjalani kehidupannya.

“Kesolehan orang tua tidak otomatis menjamin kesolehan anak. Semua kembali pada proses pendidikan, keteladanan, dan kesungguhan dalam membimbing,” ujar Ustadz Masumi.

Sementara itu, dimensi keempat mengingatkan bahwa anak juga berpotensi menjadi musuh jika tidak diarahkan dengan baik. Hal ini menjadi peringatan bahwa hubungan biologis tidak selalu menjamin kesamaan nilai dan akhlak antara orang tua dan anak, sehingga diperlukan pendidikan yang berkelanjutan serta doa yang tidak terputus.

Interaksi pendengar dalam siaran tersebut turut memperkaya pembahasan, salah satunya terkait pepatah “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”. Menanggapi hal ini, Ustadz Masumi menegaskan bahwa meskipun ada pengaruh dari orang tua, hal tersebut tidak berlaku secara mutlak dalam setiap kondisi.

“Memang ada pengaruh dari orang tua, terutama dari kebiasaan dan pendidikan di rumah. Namun tidak selalu anak akan sama dengan orang tuanya, karena banyak faktor lain yang memengaruhi perjalanan hidup anak,” ucapnya.

Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, tantangan dalam mendidik anak semakin kompleks. Orang tua dituntut untuk bersikap tegas namun tetap bijak dalam memberikan batasan, terutama dalam penggunaan teknologi dan pergaulan. Peran keluarga, khususnya orang tua, menjadi kunci utama dalam membentuk karakter anak agar tetap berada pada nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....