Tiga Wajah Dunia: Kehancuran, Perjuangan, dan Kepentingan
- 18 Apr 2026 05:01 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Rabu, 8 April 2026, Ustaz Mustamin Fattah memaparkan konsep "Tiga Wajah Dunia" yang mencerminkan realitas sosiopolitik saat ini. Pemaparan ini memberikan perspektif baru bagi masyarakat dalam memahami dinamika konflik internasional dan kesulitan ekonomi domestik.
Wajah dunia yang pertama digambarkan sebagai wajah kehancuran. Ia menyoroti ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan kekuatan besar dan senjata mutakhir. Persaingan ini dipandang bukan lagi sekadar diplomasi, melainkan sebuah permainan berbahaya yang mengancam eksistensi peradaban manusia secara global.
"Seolah-olah dunia ini kayak menjadi semacam papan permainan. Permainan catur sedikit saja salah itu semuanya akan hancur selesailah dunia ini,” ujarnya.
Berbanding terbalik dengan ambisi kekuatan besar, wajah dunia yang kedua adalah wajah perjuangan bertahan hidup. Realitas ini ditemukan pada masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi kelompok ini, isu konflik global tidaklah sepenting perjuangan untuk mendapatkan sesuap nasi bagi keluarga di setiap pagi.
"Kalau di dunia sana permainan kekuasaan dan permainan memperebutkan ekonomi, di sini adalah apa perjuangan bertahan, permainan perjuangan bertahan hidup,” katanya prihatin.
Ustaz Mustamin juga mengkritik kurangnya jaminan ekonomi yang membuat rakyat terus terjepit oleh kenaikan harga kebutuhan pokok.
Wajah ketiga yang diungkap adalah wajah kepentingan. Di tengah penderitaan rakyat, terdapat segelintir kelompok yang sibuk menyusun strategi kekuasaan dan meningkatkan elektabilitas. Kelompok ini sering kali memanfaatkan kondisi sulit masyarakat untuk kepentingan politik pribadi.
Ustaz Mustamin menekankan pentingnya kejujuran dalam berbuat baik tanpa adanya pamrih politik. Ia mengingatkan bahwa kejayaan adalah sesuatu yang digilirkan oleh Allah Swt, sehingga tidak ada jaminan bagi siapa pun untuk terus berada di puncak kekuasaan jika tidak mengedepankan etika.
Sebagai solusi, ia mengajak umat untuk menumbuhkan empati dan simpati, serta mengingatkan kehidupan dunia yang singkat ini seharusnya menjadi wadah untuk saling membantu secara ikhlas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....