Minim Modal dan Dukungan, Mbah Priyono Tetap Rawat Harapan di Kolam Ikan
- 11 Apr 2026 18:05 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Di salah satu sudut Kota Samarinda yang tenang tepatnya di RT 18, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Samarinda Utara, kolam-kolam sederhana itu tampak menjadi saksi perjalanan panjang seorang pembudidaya ikan bernama Mbah Priyono. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap setia merawat ikan-ikan peliharaannya, meski berbagai keterbatasan menghadang. Baginya, kolam ini bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga ruang untuk menyalurkan kegemaran yang telah lama tumbuh.
Mbah Priyono mengisahkan, ketertarikannya pada dunia perikanan berawal dari rasa senang semata, jauh sebelum ia memikirkan potensi ekonomi dari usaha tersebut. Ia mulai merintis budidaya ikan secara sederhana, dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Seiring waktu, usaha itu sempat memberikan hasil, meski tidak selalu stabil karena harus berbagi perhatian dengan pekerjaan lain.
“Kalau ikan itu terutama saya memang senang saja, belum sampai memikirkan masalah penghasilan. Lama-kelamaan ya sedikit demi sedikit, kadang-kadang sudah ada hasilnya,” kataya sambil tersenyum.
Perjalanan panjang itu tak selalu mulus. Ia mengakui, usaha budidaya ikan yang digelutinya kerap tersendat karena keterbatasan fokus dan modal. Di tengah kondisi sebagai “orang kecil”, ia harus membagi waktu antara mengurus kolam dan bekerja di sektor pertanian demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di kolam yang kini tersisa, Mbah Priyono membudidayakan berbagai jenis ikan, seperti lele, patin, gurami, dan nila. Dari semua jenis tersebut, ikan nila menjadi pilihan yang paling mudah dikelola. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil yang diperoleh sejatinya bergantung pada pengelolaan, terutama pakan dan kualitas air.
“Kalau penghasilan itu sama-sama sebetulnya. Ikan itu kalau betul-betul dikelola, hasilnya juga sama. Cuma ada yang cepat, ada yang lambat, tergantung pakannya dan airnya,” ujarnya.
Kini, di usianya yang menginjak sekitar 78 tahun, Mbah Priyono masih mengandalkan tenaga sendiri untuk mengelola dua kolam yang tersisa di lahan miliknya. Luas lahan yang tidak seberapa membuatnya harus lebih cermat dalam mengatur produksi. Ia pun mengaku pernah memiliki kolam tambahan di lahan seberang jalan, namun statusnya hanya menumpang sehingga tidak lagi digunakan.
Tantangan terbesar yang dihadapi Mbah Priyono hingga kini adalah keterbatasan modal. Baginya, ketersediaan pakan dan air yang memadai menjadi kunci keberhasilan budidaya. Tanpa dukungan modal, perawatan kolam menjadi tidak optimal, bahkan terkadang terbengkalai karena ia harus mencari penghasilan dari sektor lain.
“Ya terutama itu, modal. Kalau modal ada, pakan cukup, air cukup, insyaallah bagus. Tapi ini saya kadang harus tinggal ke kebun, jadi tidak terawat betul,” kata mba Priyono.
Selama menjalankan usaha, Mbah Priyono mengaku belum pernah menerima bantuan berupa benih maupun pakan dari instansi terkait. Ia hanya sesekali mendapatkan pembinaan, tanpa tindak lanjut yang berarti. Meski demikian, ia memilih untuk tidak terlalu mempersoalkan hal tersebut, meskipun menyadari adanya perbedaan perlakuan dengan pembudidaya lain di sekitarnya.
Selain kendala modal, persoalan lingkungan juga menjadi tantangan serius. Sistem drainase yang belum tertata menyebabkan air limbah rumah tangga kerap masuk ke kolam, terutama saat musim hujan. Kondisi ini pernah menyebabkan kematian ikan secara massal, sehingga ia harus melakukan penyesuaian dengan memindahkan saluran pembuangan.
“Kalau hujan, limbah dari dapur itu masuk ke kolam. Akhirnya ikan banyak yang mati. Jadi sekarang saya coba atur supaya airnya tidak tercampur,” ujarnya.
Di tengah segala keterbatasan, Mbah Priyono tetap menjalankan usahanya semampu yang ia bisa. Ia juga sempat memanfaatkan kolam sebagai tempat pemancingan untuk menambah pemasukan, meski hasilnya tidak menentu. Baginya, usaha ini bukan sekadar soal keuntungan, tetapi juga bagian dari kehidupan yang sulit ditinggalkan.
Ia pun tidak memasang harapan berlebih terhadap bantuan, meski tetap membuka diri jika suatu saat perhatian itu datang. “Kalau dapat ya syukur, tidak juga tidak apa-apa. Saya jalani saja semampunya,” ujar Mbah Priyono dengan tenang.
Kisah Mbah Priyono menjadi potret ketekunan seorang pembudidaya ikan yang bertahan di tengah keterbatasan. Di balik kolam sederhana itu, tersimpan harapan agar suatu saat ada perhatian lebih untuk mendukung usaha kecil seperti yang ia jalani, agar tetap hidup dan memberi manfaat, tak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....