Haul Habib Sholeh: Hati Bersih Tausiyah Habib Taufiq

  • 08 Apr 2026 11:56 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Tanggul - Diawali dengan ucapan Alhamdulillah oleh habib Taufiq,

Semua berkat Habib Sholeh. Habib Sholeh ini adalah keturunan Syekh Abu Bakar bin Salim, yang dididik oleh datuknya agar memiliki hati yang bersih, benar-benar bersih.

Tidak ada rasa benci, tidak ada hasutan, dan tidak ada kesombongan. Ia tidak pernah menganggap dirinya lebih mulia daripada orang lain.

Habib Sholeh melayani tamu dengan sepenuh hati, meskipun tamu itu seorang petani sekalipun, tetap dihormati.

Tidak membedakan antara pejabat dan rakyat biasa, semuanya dihormati sama; kaya atau miskin juga dihargai.

"Begitulah sosok Habib Sholeh. Karena itulah, saya ingin menjadi seperti beliau, memiliki hati yang bersih, " ujar Habib Taufiq.

Para wali abdalku memperoleh derajat tinggi di surga bukan karena banyaknya salat mereka. Meskipun mereka rajin salat, tingginya derajat mereka bukan berasal dari itu.

Bukan karena banyaknya puasa atau sedekah, melainkan karena jiwa mereka yang murah hati.

"Apakah kamu tahu apa itu jiwa yang murah? Orang yang berbuat salah kepada mereka tetap dimaafkan, walau tidak minta maaf, " ujar Habib .

Mereka tidak menyimpan dendam, memiliki hati yang bersih, tidak sombong, dan tidak riya di hadapan sesama muslim, baik teman, saudara, maupun orang yang mereka cintai. bahkan musuh pun mereka doakan dan rahmati.

Inilah warisan dari leluhur kita, Nabi Muhammad SAW.

Ketika dilempari batu hingga berdarah-darah, malaikat sudah tidak sabar ingin mengazab musuh, namun Nabi menolak dan malah mendoakan, "Ya Allah, ampunilah kaumku ini, jangan engkau siksa mereka karena mereka belum berilmu.

"Dari sinilah turun ayat, "wa innaka laa khuluqin adzim." Itulah sosok Habib Saleh, saudaraku.

“Maka, mari kita bersihkan hati. Jadilah seperti Habib Sholeh, bersihkan hatimu. Jangan biarkan ada rasa yang salah di dalam hati, seperti dendam, dengki, atau kesal terhadap sesama muslim. Jangan, “ ujar Habib Taufiq.

Sayidina Husein pernah menulis tentang empat hal yang terdapat pada pandangnya. Ingatlah ini: Pertama, rezeki telah dibagi oleh Allah. Jadi, jangan bingung.

Bekerja tentu boleh, tidak masalah. Namun, rezeki itu bukan hasil kerja semata.

Banyak petani yang menanam benih unggul di tanah subur, diberi air dan pupuk, tapi panennya dimakan tikus sehingga rugi. Mengapa? Karena rezeki adalah suatu yang sudah ditentukan secara pasti (maksum).

Usaha apapun silakan, tetapi tetap berharap hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jangan mengandalkan amal. Beramal adalah bentuk harapan kepada Allah. Berobat bukan jaminan sembuh, tetapi usaha menunjukkan harapan kita kepada-Nya.

Begitu pula ibadah, meskipun salat, tidak serta-merta menjamin masuk surga.

Catatan kedua, "wal haris mahrum": Orang yang serakah dan tamak akan selalu merugi.

Mereka tidak mendapatkan apa-apa. Hidup biasa saja, jangan mencari kehormatan yang sia-sia karena tidak akan dihormati. Jangan mencari pengaruh karena percuma.

Orang-orang mungkin melihat pakaian Habib Saleh yang sederhana, tapi tamu dari mana saja dihormati.

AlHabib Taufiq pernah mendengar cerita bahwa dulu di sini ada dua kamar mandi, sumur, dan tempat mencuci. Pada malam hari, Habib Saleh lah yang mengisi kamar mandi itu dengan tangannya sendiri.

Tamu-tamu tidur dengan nyaman, lalu pagi hari setelah salat subuh, mereka dibuatkan ketan oleh beliau.

Begitulah kehidupan sederhana yang kemudian diangkat derajatnya oleh Allah. Orang yang ambisius sering terlihat, namun hasilnya tidak memuaskan. Selanjutnya, "wal bakhil mazmum": Orang yang kikir dan tercela. Siapa yang mengasihi orang kikir? Bahkan semut pun benci padanya karena tidak pernah ada sisa.

"Harus berhati-hati, saudaraku Alfagqir masih ingat zaman Habib Saleh di sini? Dulu belum ada listrik, masih pakai diesel. Beliau bahkan mengantarkan sendiri alat penerangannya, " ujar Habib.

Para menteri juga meminta doa kepada Habib Saleh, termasuk Adam Malik yang mulai dari walikota kemudian gubernur hingga wakil presiden.

Meski ada fitnah, Adam Malik terus naik derajat hingga meninggal setelah Habib Saleh.

Selain itu, Orang yang dengki selalu gelisah hatinya. Penyakit hasad ini membuat hati tidak tenang. Ketika melihat saudaranya muslim diangkat derajat dan rezekinya lancar, dia merasa sakit hati padahal tidak dirugikan. Orang yang hasud tidak akan berhasil dalam usahanya; sia-sia saja. Penyakit hasad menghapus kebaikan seperti api yang membakar kayu.

Misalnya, lemari kayu jati yang indah dan mahal jika terbakar, siapa yang mau beli? Tidak ada nilainya. Begitu juga ibadah umrah, haji, membangun pondok, berdakwah, atau mengajar jika disertai hasud, semuanya akan hangus.

Lihatlah Habib Saleh. Beliau mendoakan orang menjadi pejabat tanpa harus mencalonkan, tanpa dukungan politik apapun, dan doanya membawa keberkahan karena hatinya bersih. Semoga Allah membersihkan hati kita juga. Amin ya Allah.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....