Cinta Tegas Kunci Pemulihan Pecandu Narkoba
- 06 Apr 2026 11:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Cinta yang tegas atau tough love merupakan bentuk kasih sayang yang tidak membiarkan perilaku merusak terus terjadi, terutama pada pasien kasus kecanduan narkoba. Hal itu disampaikan Konselor Adiksi Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah (Bareta) Samarinda, dalam program SANKSI (Suara Anti Narkoba, Korupsi, dan Judi) Pro1 RRI Samarinda.
Konselor Adiksi Ahli Pertama Bareta Samarinda, Endah Meilinda, mengungkapkan cinta yang tegas adalah bentuk kasih sayang yang hadir, tetapi tidak membiarkan perilaku yang merusak terus terjadi. Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku individu, khususnya bagi klien yang sedang menjalani rehabilitasi.
“Tanpa batasan yang jelas, kasih sayang justru dapat berubah menjadi sikap permisif yang berdampak buruk bagi proses pemulihan, karena seseorang merasa perilakunya selalu ditoleransi” ujar Endah kepada RRI, dikutip Senin 6 April 2026.
Ia menambahkan, pendekatan ini membantu membangun tanggung jawab, kedisiplinan, serta kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Sementara itu Konselor Bareta lainnya, Edy Kurnawan, mencontohkan penerapan cinta yang tegas dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan keluarga. Salah satunya adalah tidak memberikan uang tanpa tujuan yang jelas kepada klien (sebutan pasien) yang sedang dalam masa pemulihan.
“Kita sebagai keluarga tidak memberikan uang tanpa tujuan yang jelas. Harus dikontrol dan disampaikan untuk apa,” ujar Edy.
Ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka agar klien tetap merasa didukung tanpa kehilangan arah. Lebih lanjut, Edy menyampaikan komunikasi asertif menjadi kunci dalam membangun hubungan yang sehat antara keluarga dan klien. Dengan komunikasi yang baik, kedua belah pihak dapat merasa nyaman sekaligus memahami batasan yang ada.
“Klien juga harus merasa nyaman untuk berbagi, dan keluarga tetap tegas dalam menyampaikan aturan,” ucapnya.
Pendekatan ini dinilai mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri klien selama proses rehabilitasi. Dalam praktiknya, konsep cinta yang tegas juga diterapkan dalam program rehabilitasi dengan melibatkan keluarga secara aktif. Keluarga diajak untuk tidak selalu menuruti keinginan klien, melainkan memberikan dukungan yang terarah dan konsisten.
“Dukungan keluarga harus tegas, tidak selalu menuruti keinginan klien, tapi tetap mendukung dengan aturan yang jelas,” kata Edy. Ia menegaskan konsistensi menjadi faktor penting agar proses pemulihan berjalan optimal.
Melalui pendekatan ini, diharapkan klien dapat memahami konsekuensi dari setiap tindakan serta mampu membangun kehidupan yang lebih baik. Kolaborasi antara lembaga rehabilitasi dan keluarga menjadi fondasi utama dalam menciptakan pemulihan yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....