Pentingnya Menjaga Hati Menurut Hadis Nabi Muhammad

  • 26 Mar 2026 14:40 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta - Nabi Muhammad Saw dalam salah satu hadisnya menjelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat segumpal darah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun jika ia rusak, maka rusak pula seluruhnya. Segumpal darah tersebut adalah hati.

Dalam tausiah Halimah Alaydrus, umat Islam diingatkan untuk selalu memperhatikan kondisi hati. Sebab, hati menjadi penentu nilai seseorang di hadapan Allah Swt.

Ia menjelaskan, Allah tidak menilai manusia dari fisik, rupa, maupun status sosial. Yang menjadi perhatian utama adalah kondisi hati—apakah bersih, penuh keimanan, atau justru dipenuhi penyakit hati.

“Nilai seseorang di hadapan Allah bukan dari seberapa awal datang ke majelis atau amalan lahiriahnya, melainkan dari hatinya,” ujar Halimah.

Hati, menurutnya, bisa berada dalam berbagai kondisi. Ada yang bercahaya, ada yang gelap, bahkan ada yang mati. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus mengevaluasi diri dan menjaga kebersihan hati.

Ia juga mengutip pesan gurunya, Habib Umar bin Hafidz, yang menyatakan bahwa sumber dari segala urusan adalah hati. Jika hati baik, maka seluruh amal akan baik. Sebaliknya, jika hati rusak, maka rusak pula seluruhnya.

Dalam tausiah tersebut dijelaskan bahwa dosa menjadi “sampah” yang mengotori hati. Setiap kali seseorang melakukan dosa, akan muncul titik hitam dalam hati. Jika dibiarkan, titik-titik tersebut akan menumpuk dan mengeraskan hati.

Namun demikian, setiap dosa dapat dihapus dengan taubat dan istigfar yang sungguh-sungguh. Allah Swt Maha Pengampun dan dapat menghapus dosa sebesar apa pun, selama hamba-Nya mau kembali dan memohon ampun.

Halimah mengingatkan agar umat Islam tidak meremehkan dosa kecil, seperti berkata kasar, memandang orang lain dengan hina, atau membicarakan aib sesama. Sebab, dosa kecil yang terus dilakukan dapat menumpuk dan merusak hati.

Ia juga mengingatkan bahaya hati yang penuh karat, karena dapat berujung pada kondisi suul khatimah, yakni meninggal dunia dalam keadaan buruk.

“Modal utama saat menghadapi kematian adalah hati yang bersih dan selamat,” katanya.

Melalui tausiah ini, umat Islam diajak untuk senantiasa membersihkan hati dengan taubat, memperbanyak istigfar, serta menjaga niat dalam setiap amal ibadah.

Dengan hati yang bersih, diharapkan seseorang dapat meraih keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....