Peran IMP dalam Mencegah Stunting
- 21 Feb 2026 12:58 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Upaya menciptakan generasi emas di Samarinda Seberang, kini dimulai jauh sebelum bayi dilahirkan. Melalui Institusi Masyarakat Perkotaan (IMP), para kader melakukan pendampingan ketat, mulai dari fase calon pengantin (Catin) hingga anak berusia dua tahun.
IMP merupakan perubahan dari Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD), kini lebih terorganisir dengan struktur yang jelas untuk memantau kesehatan keluarga secara rutin. Kader IMP Samarinda Seberang, Tianah, menjelaskan setiap calon pengantin diwajibkan melakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas, untuk mendapatkan sertifikat Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil).
Data kesehatan seperti berat badan, kebiasaan merokok, hingga indikasi penggunaan obat-obatan terlarang dipantau secara digital. Langkah ini diambil untuk mendeteksi calon ibu dalam kondisi sehat sebelum memasuki masa kehamilan.
"Tujuannya adalah kalau seandainya ibu langsung bisa hamil, secara fisik sehat dan dapat mencengah stunting pada anak," ujar Tianah, dikutip Sabtu 21 Februari 2026.
Selain Elsimil, terdapat program unggulan bernama Genting atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari anggota DPR, lurah hingga pihak kecamatan.
''Kegiatannya dengan memberikan bantuan makanan setiap hari selama tiga bulan kepada keluarga berisiko. Fokus utamanya adalah kelompok 3B yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi di bawah dua tahun atau balita,'' ujar Tianah dalam program Odah Bekesah.
Pendampingan tidak hanya berhenti pada pemberian makanan bergizi, tetapi juga edukasi perubahan perilaku. Para kader turun langsung ke lapangan, memastikan orang tua untuk memahami bahwa makanan bergizi tidak harus mahal. Sayuran sederhana seperti sawi, bisa menjadi sumber nutrisi jika diolah dengan benar.
Lebih lanjut, Ketua IMP Samarinda Seberang, Wahyudi menjelaskan ''Masih banyak warga yang enggan datang ke Posyandu. Kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan terbesar di lapangan,'' katanya.
Melalui Integrasi Layanan Primer (ILP), Posyandu kini tidak hanya melayani balita, tetapi juga remaja hingga lansia. Semua data yang terkumpul akan diolah oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) sebagai dasar kebijakan pemerintah ke depannya. Sinergi antar stakeholder menjadi kunci utama dalam menuntaskan kasus stunting di wilayah tersebut.
Diharapkan dengan adanya edukasi yang konsisten, pola pikir masyarakat dapat berubah menuju pola hidup yang lebih sehat. Perjalanan menuju keluarga berkualitas memang panjang, namun dengan pendampingan kader IMP, masyarakat memiliki dukungan dan arah yang jelas dalam menghadapi risiko kesehatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....