Warga Samarinda Dukung Gerakan Bank Sampah dan Edukasi sejak TK
- 20 Feb 2026 14:29 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Dukungan terhadap gerakan bank sampah di Kota Samarinda terus mengalir, termasuk dari pendengar setia RRI. Dalam sesi dialog interaktif Green Radio Pro1 Samarinda, seorang pendengar, Rustam, menyampaikan apresiasi sekaligus masukan agar gerakan peduli sampah dibudayakan sejak usia dini dan diperkuat dengan regulasi tegas.
“Saya sangat setuju gerakan ini dibudayakan sejak TK dan SD. Kalau perlu, peraturan daerah ditegakkan dengan sanksi denda bagi yang membuang sampah sembarangan,” ucap Rustam saat menyampaikan pendapatnya.
Ia juga mencontohkan pengalamannya melihat pengendara yang membuang sampah dari kendaraan. “Jangan didiamkan. Memang terlihat tegas, tetapi demi kebaikan bersama. Di luar negeri seperti Jepang, orang membawa kantong sendiri sampai menemukan tempat sampah,” kata Rustam.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Bank Sampah Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul), Ananda Bayu Saputra, menyambut baik dukungan masyarakat. “Kolaborasi antara pemuda dan pemangku kepentingan memang sangat diperlukan. Kami bukan hanya mengkritik, tetapi juga beraksi langsung di lapangan,” ujar Bayu.
Ia menambahkan, pihaknya juga aktif memberikan masukan dalam berbagai forum, termasuk menanggapi rencana pengelolaan sampah melalui insinerator di Samarinda. “Kami sempat mempertanyakan uji kelayakan dan efektivitasnya, mengingat 50 persen sampah di Samarinda adalah sampah organik dari total sekitar 615 ton per hari,” ucapnya.

Sebagai langkah konkret, Bank Sampah Faperta Unmul menjalankan program “Go to School” dengan pendekatan berbeda sesuai jenjang usia. “Untuk anak TK, kami ajak bermain sambil belajar memilah sampah berdasarkan warna tempat sampah. Ini untuk membentuk pola perilaku sejak dini,” kata Bayu.
Di tingkat sekolah dasar, edukasi dikemas melalui program tukar sampah dengan satu kotak susu. “Kami ingin menunjukkan bahwa sampah memiliki nilai. Anak-anak jadi lebih semangat mengumpulkan botol plastik atau kaleng,” ujarnya.
Sementara untuk pelajar SMP dan SMA, program inovatif berupa tukar sampah dengan pulsa juga diperkenalkan. “Kami sesuaikan dengan kebutuhan mereka. Jadi sampah botol, kardus, kaleng aluminium, hingga buku bekas bisa ditukar menjadi pulsa,” ujar Arnold Sereno Gultom.
Tak hanya itu, minyak jelantah juga menjadi salah satu sampah bernilai ekonomi tinggi. Bayu mengungkapkan, ada nasabah yang mampu mengumpulkan minyak jelantah hingga bernilai Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. “Bahkan ada nasabah yang tabungannya di bank sampah sudah menembus Rp1 juta karena rutin menabung setiap minggu,” ucap Bayu.
Melalui edukasi berjenjang, kolaborasi dengan masyarakat, serta inovasi program tukar sampah, Bank Sampah Faperta Unmul berharap budaya sadar lingkungan semakin mengakar di Samarinda. Gerakan ini tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah adalah tanggungjawab bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....