Krisis Keteladanan menjadi Tantangan Besar Pendidikan Indonesia

  • 18 Feb 2026 08:23 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Dunia pendidikan Indonesia saat ini tengah menghadapi badai krisis yang mengancam masa depan generasi muda. Yuli Wulandari, seorang praktisi pendidikan sekaligus pendiri Al Haqie Edu, menguraikan tiga permasalahan krusial yang menyelimuti anak muda masa kini, yakni krisis keteladanan, krisis identitas, dan krisis moral.

Krisis keteladanan muncul karena minimnya figur orang dewasa yang dapat dijadikan contoh positif. Yuli menyoroti banyaknya oknum orang dewasa yang justru mempertontonkan perilaku buruk yang dengan mudah diakses anak-anak melalui media sosial.

"Generasi muda mengalami krisis keteladanan. Banyak sekali oknum orang dewasa yang tidak bisa menjadi teladan tidak bisa menjadi contoh bagi generasi muda," ujarnya dalam program Indonesia Layak Anak (IDOLA) di Pro1 RRI Samarinda, Minggu, 1 Februari 2026.

Minimnya teladan ini kemudian berujung pada krisis identitas. Di tengah banjir informasi yang seringkali tidak bermanfaat di media sosial, anak-anak menjadi bingung membedakan antara konsep yang benar dan salah. Tanpa bimbingan yang tepat, mereka kehilangan arah dalam menentukan prinsip hidup dan jati diri mereka.

Dampak lebih jauh dari krisis identitas ini adalah merosotnya moralitas remaja. Kasus perundungan yang semakin marak dan beragam bentuknya menjadi bukti nyata. Perundungan kini tidak hanya terjadi antar-siswa, tetapi juga melibatkan interaksi negatif antara siswa dengan guru maupun orang tua dengan guru.

Yuli berpendapat, pendidikan harus menjadi benteng untuk mengatasi masalah ini. Guru dan tutor harus mampu menjadi teladan pertama bagi murid-muridnya.

"Kita itu bisa menjadi orang dewasa dan tutor yang bisa memberikan teladan bagi murid-murid kita supaya murid-murid kita itu bisa mencontoh orang dewasa yang baik itu seperti apa," ucapnya.

Selain di sekolah, peran lingkungan rumah sebagai unit terkecil pendidikan sangatlah vital. Pola asuh dan apa yang ditonton anak melalui gadget menjadi faktor penentu karakter. Yuli mendorong adanya evaluasi besar-besaran terhadap cara orang dewasa berkomunikasi dengan anak-anak agar nilai-nilai moral kembali tegak.

Kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk memutus rantai krisis ini. Ketegasan dalam memberikan edukasi serta pemberian hukuman yang mendidik bagi pelanggaran moral harus dilakukan secara seimbang demi mewujudkan cita-cita generasi Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....