Peran PPDI Kaltim Perkuat Literasi Inklusi

  • 16 Feb 2026 14:31 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Peran organisasi penyandang disabilitas menjadi kunci dalam mendorong terwujudnya literasi inklusi di daerah. Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Timur (Kaltim) selama ini dikenal aktif menjembatani kepentingan penyandang disabilitas dengan pemerintah dan masyarakat luas. Melalui advokasi, edukasi publik, serta pendampingan, PPDI Kaltim berupaya memastikan hak-hak disabilitas terpenuhi secara nyata.

Pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Timur sekaligus pengurus di Kutai Kartanegara, Lina Oktaviani, menjelaskan PPDI Kaltim berperan sebagai penghubung aspirasi penyandang disabilitas. “Kami menjadi penjembatan antara penyandang disabilitas di Kalimantan Timur dengan pemerintah serta masyarakat,” ujar Lina saat dialog bersama RRI Pro1 Samarinda dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi.

Menurutnya, literasi inklusi harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya isu kelompok tertentu. Dalam praktiknya, kolaborasi dilakukan melalui komunitas yang menjadi bagian dari jejaring PPDI. Salah satunya adalah Ikatan Kebersamaan Anak Tuli (IKAT) yang bekerja sama dengan Ambara Cita di Samarinda.

Ia menegaskan akses informasi bagi penyandang disabilitas pendengaran masih sangat terbatas. “Kerja sama ini difokuskan pada penguatan literasi yang benar-benar inklusif, khususnya bagi teman-teman tuli. Karena literasi yang sangat minim itu kami rasakan ketika akses informasi sulit didapatkan oleh teman-teman tuli,” katanya. Perbedaan cara menerima informasi membuat penyampaian pesan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing ragam disabilitas. Bahasa isyarat menjadi pintu masuk penting dalam membangun kesadaran masyarakat.

“Harapannya, masyarakat tidak lagi memandang bahasa isyarat sebagai sesuatu yang tabu atau aneh,” ucap Lina dikutip Senin, 16 Februari 2026. Ia mengungkapkan, masih sering terjadi tatapan heran ketika komunikasi bahasa isyarat dilakukan di ruang publik. Edukasi sejak usia dini dinilai efektif untuk mengubah pola pikir tersebut.

Program yang dijalankan bersama Ambara Cita di Kampung Ketupat menyasar anak-anak sebagai generasi emas. Melalui pengenalan bahasa isyarat dan pendidikan inklusif, diharapkan anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa setiap orang berhak memperoleh informasi yang sama. Pendekatan ini juga memperluas kesadaran bahwa hak akses informasi tidak hanya milik kelompok nondisabilitas.

Selain disabilitas pendengaran, isu akses informasi bagi penyandang disabilitas netra juga menjadi perhatian. Informasi dalam format audio, huruf Braille, dan media ramah akses lainnya harus terus diperluas. PPDI Kaltim membuka peluang kolaborasi dengan berbagai komunitas agar literasi inklusi semakin kuat dan merata.

Melalui sinergi antara PPDI Kaltim, IKAT, dan Ambara Cita, gerakan literasi inklusi diharapkan mampu menghapus hambatan komunikasi di masyarakat. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kerja bersama dapat membuka ruang yang lebih adil, setara, dan manusiawi bagi seluruh warga tanpa terkecuali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....