Peran Guru dan Komunitas dalam Menguatkan Literasi Inklusi

  • 16 Feb 2026 13:37 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Literasi inklusi tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan dan gerakan sosial. Peran guru serta komunitas menjadi kunci dalam membangun pemahaman masyarakat tentang pentingnya akses informasi yang setara bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.

Relawan Komunitas Ambara Cita, Lismia Nabilla, kepada RRI mengatakan literasi memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar kemampuan membaca dan menulis. “Literasi itu bukan hanya baca dan tulis, tetapi juga seni untuk mengungkapkan sesuatu,” ujar Mia saat dialog bersama RRI, dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi. Menurutnya, literasi adalah ruang ekspresi yang memungkinkan seseorang menyampaikan perasaan, gagasan, dan opini secara bijak.

Dalam konteks inklusi, guru di SD Negeri 001 Samarinda Ulu itu, menilai literasi harus mampu menjangkau semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Ia menegaskan pentingnya komunikasi yang adaptif dan empatik agar pesan yang disampaikan benar-benar dipahami oleh penerima. “Sebagai relawan dan guru, komunikasi dan literasi untuk inklusi itu sangat penting untuk keberlanjutan gerakan sosial kita,” ujarnya, dikutip Senin, 16 Februari 2026.

Ia juga memandang literasi sebagai “the art of expression” atau seni dalam berekspresi. Dijelaskannya, literasi membantu seseorang menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman. Dengan literasi yang inklusif, masyarakat tidak hanya memahami informasi, tetapi juga belajar menghargai perspektif orang lain.

Selain sebagai guru, ia juga aktif sebagai relawan literasi. Ia menjelaskan menjadi relawan adalah panggilan hati. “Semua dilakukan dengan hati dan jiwa. Akan terasa lebih ringan ketika kita tahu itu adalah panggilan hati kita,” ucapnya. Semangat kerelawanan inilah yang memperkuat gerakan literasi inklusi di tengah masyarakat.

Peran komunitas seperti Ambara Citra juga dinilai strategis dalam menumbuhkan kesadaran literasi inklusi. Komunitas ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga wadah kolaborasi antara guru, relawan, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua kalangan.

Dengan sinergi antara sekolah, komunitas, dan relawan, literasi inklusi dapat berkembang secara berkelanjutan. Pendidikan yang inklusif bukan hanya tentang kurikulum, melainkan juga tentang cara berkomunikasi dan menghargai keberagaman. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan generasi yang lebih terbuka, empatik, dan berkeadilan sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....