Etika Pelunasan Hutang: Tanggung Jawab Hingga Akhirat
- 11 Feb 2026 07:00 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Urusan hutang bukan hanya perkara duniawi, melainkan urusan yang memiliki konsekuensi hingga akhirat. Hal itu disampaikan Ustaz Mustamin Fattah, dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Rabu 4 Februari 2026. Ia menekankan pentingnya etika dalam membayar hutang.
Seorang muslim yang baik seharusnya memiliki komitmen yang kuat untuk melunasi kewajibannya tanpa harus menunggu ditagih atau dicari-cari oleh pemberi hutang. Ia mengkritik fenomena sosial di mana orang yang berhutang justru lebih sulit ditemui daripada orang yang meminjami. Secara etika, peminjam seharusnya bersikap proaktif.
Jika sudah memiliki dana, maka segeralah dibayarkan sebelum jatuh tempo. Komunikasi yang jujur juga menjadi kunci utama jika terjadi kendala dalam proses pelunasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
| Baca juga: Hak Anak dalam Perspektif Islam |
"Jangan menunggu ditagih ya. Jika sudah ada dananya, segera bayar sebelum jatuh tempo,” ujarnya.
Hal yang juga disorot dalam tausiyah tersebut adalah pengingat bahwa hutang tidak akan lunas hanya karena kematian seseorang. Secara fikih, ahli waris berkewajiban untuk menyelesaikan tanggungan hutang almarhum menggunakan harta peninggalannya sebelum harta tersebut dibagi sebagai warisan. Hutang yang tidak terselesaikan di dunia akan menjadi penghambat besar di akhirat kelak.
Bahkan dalam syariat, seorang syuhada yang mati syahid sekalipun bisa tertunda masuk surga jika masih memiliki sangkutan hutang yang belum tuntas. Hal ini menunjukkan betapa beratnya beban haqqul adami (hak sesama manusia) dalam pandangan Allah Swt. Hutang yang diremehkan di dunia bisa menguras amal ibadah seseorang saat di pengadilan akhirat.
"Hutang itu tidak hanya berhenti dan tidak akan berhenti setelah kematian kita. Bahkan ketika orang meninggal, keluarganya itu yang akan tampil berbicara. Artinya, kematian seseorang tidak otomatis menghentikan hutang,” ucapnya.
Oleh karena itu, prinsip mendahulukan kewajiban di atas keinginan harus ditegakkan. Sangat tidak etis jika seseorang terlihat mampu berbelanja barang mewah atau makan di tempat mahal sementara hutangnya kepada orang lain belum dibayar. Hal ini merupakan bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawabannya.
Sebagai penutup, Ustaz Mustamin mengajak umat Muslim untuk selalu waspada dan tidak meremehkan hutang sekecil apa pun. Ia menekankan bahwa ketenangan hidup yang sesungguhnya adalah hidup tanpa beban hutang, atau setidaknya memiliki niat yang jujur dan usaha maksimal untuk segera melunasinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....