Satu Abad NU: Momentum Menuju Peradaban Mulia
- 01 Feb 2026 11:27 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 2026, Ustaz Muhammad Khozin menekankan, angka satu abad bukan sekadar hitungan masa, tetapi lambang kematangan dan sumbangan besar organisasi ini kepada agama dan negara.
Ustaz Khozin menjelaskan, sejarah berdirinya NU pada tahun 1926 merupakan respon strategik para ulama Nusantara terhadap runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani dan ancaman terhadap tradisi Islam di Tanah Suci.
"Angka itu akan sangat berarti jika kita lihat dari berbagai sisi, di antaranya adalah dari sisi sejarah. Melihat fakta sejarah tentu tidak diragukan lagi bahwa Nahdlatul Ulama atau NU dari setiap tahun setiap dekade turut memberi andil di dalam menjaga agama dan negara," ujarnya dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Jumat, 30 Januari 2026.
Ia menyatakan, NU telah terbukti menjaga keharmonian di Indonesia sejak zaman pra-kemerdekaan.
Ustaz Khozin juga menyoroti kepentingan menyiapkan generasi muda untuk meneruskan perjuangan para penggagas seperti K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Wahab Chasbullah. Menurutnya, kemajuan sesebuah negara dan organisasi sangat bergantung kepada kualitas anak mudanya. Oleh karena itu, pendidikan yang menggabungkan ilmu pengetahuan dan akhlak menjadi kunci utama dalam menempuhi abad kedua NU.
Puncak peringatan satu abad ini membawa tema "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia". Di Kalimantan Timur, peringatan ini berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Memaknai satu abad Nahdlatul Ulama adalah momentum kebangkitan baru untuk mendidik dayakan organisasi, meneguhkan khidmah dan meningkatkan kontribusi di abad kedua," katanya.
Ia mengajak seluruh warga untuk melakukan refleksi dan transformasi. Hal ini bertujuan agar NU tetap relevan dan mampu menjawab masa depan yang semakin kompleks, sambil tetap merawat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....