Erau Pemarangan Salah Satu Tradisi Masyarakat Kutai Kaltim
- 27 Des 2024 03:01 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Erau merupakan salah satu tradisi masyarakat Kutai yang ada di Kalimantan Timur. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini memiliki nama dan prosesi yang berbeda-beda di setiap daerah, termasuk Erau Pemarangan. Disebut Erau Pemarangan karena lokasi kegiatan diadakan diwilayah pemarangan yang ada di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Tokoh masyarakat Desa Jembayan, Sopyan bercerita kepada RRI bahwa Erau Pemarangan dilakukan dalam rangka bersih kampung jelang akhir tahun. Selain itu, pihaknya juga ingin kembali mengenang wilayah pemarangan yang pernah menjadi pusat Ibukota dan menyimpan banyak peninggalan sejarah kutai.
“Selain mengenang sejarah, acara ini juga sebagai bentuk napak tilas selama satu tahun terakhir. Karena tanah kutai ini bertuah, jadi kami masih menganut itu, permisi dengan leluhur dan berupaya hidup berdampingan dengan mereka,” terang Sopyan.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, mereka meyakini bahwa selain makhluk hidup yang kasat mata, kita juga berdampingan dengan makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Oleh karena itu, sebagai wujud hidup berdampingan dengan mereka, dibuatlah acara Erau.
“Kami percaya pedatoa’an dan leluhur masih ada bersama di sekitar kita. Oleh karena itu, untuk menghargai mereka kita undang juga untuk membersamai dalam kegiatan erau ini,” lanjutnya.
Namun bukan tanpa tantangan dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Ada oknum masyarakat yang sudah tidak mau melaksanaknnya karena menganggap bertentangan dengan ajaran agama. Padahal menurut Sopyan, kegiatan ini merupakan bentuk pelestarian tradisi dan menghormati leluhur bukan untuk menuhankan mereka.
“Kembali lagi dengan keyakinan masing-masing. Kami juga tidak bisa memaksa masyarakat untuk ikut jika tidak mau. Karena inilah wujud penghormatan kita dengan leluhur dan bukan menghambakan diri,” ujarnya.
Menurutnya, muara dari kegiatan erau yang mereka laksanakan merupakan bentuk persatuan seluruh unsur yang ada di wilayah atau daerahnya, termasuk para leluhur dan makhluk-makhluk lain yang tak kasat mata. Dengan harapan mereka bisa saling hidup berdampingan tanpa mengganggu satu sama lain dan merajut persatuan dan kesatuan demi kemajuan daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....