Air Bersih Jadi Prioritas Utama Bantuan 72 Jam Pertama Pascabencana

  • 07 Agt 2026 10:26 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pemenuhan kebutuhan air bersih harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana, khususnya pada 72 jam pertama setelah kejadian. Ketersediaan air bersih dinilai menjadi kebutuhan paling mendesak untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para penyintas di tengah kondisi darurat.

Ketua Lembaga Resiliensi Bencana–Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur, Ns. Maridi M. Dirdjo, dalam obrolan SPADA Pro 2 RRI Samarinda mengatakan fase awal tanggap darurat merupakan masa yang sangat menentukan sehingga distribusi air bersih tidak boleh terlambat.

"Di dalam 72 jam pertama itu yang harus dipenuhi adalah kebutuhan dasar, salah satunya air bersih. Karena kalau air bersih tidak tersedia, dampaknya akan sangat besar terhadap kesehatan para penyintas," ujarnya, dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.

Maridi menjelaskan, pemenuhan air bersih pada masa awal bencana bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan minum. Air juga dibutuhkan untuk memasak, menjaga kebersihan diri, serta mendukung sanitasi agar tidak memicu munculnya penyakit di lokasi pengungsian.

"Di dalam 24 jam pertama itu adalah respons darurat utama. Biasanya kita harus mulai drop tangki air. Kemudian, kalau memungkinkan, harus ada water treatment plant. Jadi, biasanya BPBD punya unit yang bisa mengolah air keruh, misalnya saat banjir, menjadi air minum," katanya.

Menurutnya, apabila sumber air yang tersedia tidak layak digunakan, relawan harus segera menghadirkan fasilitas pengolahan air agar penyintas tetap memperoleh pasokan air yang aman untuk dikonsumsi. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mencegah krisis kesehatan di lokasi terdampak bencana.

"Kalau memang sumber airnya rusak atau tercemar, maka yang paling cepat adalah mendatangkan air bersih atau mengolah sumber air yang ada supaya bisa digunakan. Itu menjadi prioritas di awal masa tanggap darurat," ucapnya.

Maridi menegaskan, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari cepatnya proses evakuasi, tetapi juga dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar penyintas sejak hari pertama. Karena itu, ia berharap penyediaan air bersih selalu menjadi prioritas utama dalam setiap operasi kemanusiaan pascabencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....