Samarinda Kehabisan Lahan Sawah, Produktivitas Jadi Andalan Ketahanan Pangan

  • 22 Jul 2026 09:55 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Ketika Indonesia memasuki fase menjaga keberlanjutan swasembada pangan, tantangan setiap daerah tidak lagi sama. Jika sejumlah wilayah masih berupaya memperluas areal persawahan, Kota Samarinda justru dihadapkan pada keterbatasan ruang akibat pesatnya perkembangan kawasan perkotaan.

Kondisi tersebut membuat strategi ketahanan pangan di ibu kota Kalimantan Timur tidak lagi bertumpu pada pencetakan sawah baru, melainkan pada peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada, perlindungan lahan pertanian, serta regenerasi petani.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Samarinda Muhammad Darham mengatakan regenerasi mulai terlihat melalui hadirnya kelompok tani milenial. Namun sebagian besar masih memilih mengembangkan komoditas hortikultura dibanding tanaman pangan.

"Sudah ada beberapa kelompok tani milenial yang mencoba. Tetapi mereka sekarang masih fokus di tanaman hortikultura seperti cabai dan jagung. Kalau sawah saya kira mereka belum berani karena masih dikuasai oleh petani senior yang memiliki pengalaman," ujarnya kepada rri.co.id Rabu 22 Juli 2026.

Menurut Darham, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena regenerasi petani padi berjalan lebih lambat dibanding sektor hortikultura.

Berbeda dengan sejumlah kabupaten di Kalimantan Timur yang masih memiliki cadangan lahan pertanian, Samarinda praktis tidak lagi memiliki ruang untuk membuka sawah baru.

Darham menjelaskan keterbatasan tata ruang menjadi kendala utama.

"Kalau cetak sawah khusus Samarinda tidak ada karena keterbatasan lokasi dan lahan. Kami juga didesak melakukan cetak sawah, tetapi memang tidak ada lagi lahan yang bisa dibuka," katanya.

Karena itu, pemerintah memilih mempertahankan seluruh lahan sawah produktif yang masih tersisa agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan permukiman maupun kawasan usaha.

Selain menjaga sawah eksisting, Pemkot Samarinda juga mulai mengoptimalkan aset pemerintah yang belum dimanfaatkan menjadi lahan pertanian. Bahkan sejumlah pemilik lahan pribadi bersedia meminjamkan lahannya kepada kelompok tani agar tetap produktif.

"Yang ada sekarang harus dipertahankan. Aset pemerintah yang menganggur silakan dimanfaatkan untuk pertanian. Begitu juga lahan milik warga yang tidak dikelola, bisa dipinjamkan kepada petani daripada menjadi lahan tidur," ucapnya.

Strategi Samarinda ternyata sejalan dengan arah pembangunan pertanian Kalimantan Timur.

Pemerintah kini lebih menekankan peningkatan produktivitas daripada sekadar memperluas areal tanam. Salah satunya melalui penerapan metode Padi Tanam Hemat Air Super (PMAAS) yang mulai diterapkan secara bertahap pada sekitar 7.000 hektare lahan sawah di Kalimantan Timur.

Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP) Kalimantan Timur Ahmad Subhan menjelaskan produktivitas padi di Kaltim saat ini masih berkisar 3,5 hingga 4 ton gabah per hektare. Melalui PMAAS, produktivitas ditargetkan meningkat menjadi 6 hingga 7 ton per hektare, bahkan pada beberapa lokasi demonstrasi mampu mencapai sekitar 10 ton per hektare jika seluruh tahapan budidaya diterapkan sesuai rekomendasi.

"Kalau produksi rata-rata di Kalimantan Timur saat ini masih sekitar 3,5 sampai 4 ton per hektare, harapannya dengan metode ini paling tidak bisa meningkat menjadi di atas 6 sampai 7 ton per hektare," kata Ahmad Subhan.

Metode PMAAS mengandalkan pengaturan tata tanam, efisiensi penggunaan air, peningkatan populasi tanaman, serta pendampingan intensif oleh penyuluh pertanian sehingga lahan yang sama mampu menghasilkan panen lebih tinggi.

Peningkatan produktivitas menjadi semakin penting seiring bertambahnya aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk di Kalimantan Timur sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kebutuhan pangan diperkirakan akan terus meningkat sehingga setiap daerah dituntut memberikan kontribusi sesuai potensi yang dimiliki.

Bagi Samarinda, kontribusi tersebut tidak harus diwujudkan melalui perluasan sawah. Kota ini justru memiliki peluang besar mengembangkan hortikultura, pertanian perkotaan, dan optimalisasi lahan terbatas, sementara produksi beras diperkuat melalui peningkatan hasil panen di daerah sentra produksi lainnya.

Di balik berbagai inovasi tersebut, regenerasi petani tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Teknologi modern seperti PMAAS hanya akan berhasil apabila didukung sumber daya manusia yang mampu menguasai teknik budidaya, memanfaatkan mekanisasi, dan beradaptasi dengan pertanian modern.

Karena itu, keberadaan petani milenial menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan swasembada pangan Indonesia.

Di Samarinda, menjaga setiap hektare sawah yang masih tersisa sama pentingnya dengan melahirkan generasi petani baru. Sebab, pada era ketika lahan semakin terbatas, keberhasilan pertanian tidak lagi diukur dari seberapa luas sawah yang dibuka, melainkan dari seberapa tinggi produktivitas yang mampu dihasilkan melalui inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....