Tak Hanya Penuhi Gizi, MBG di SMPN 8 Samarinda Bentuk Karakter Gotong Royong Siswa

  • 08 Jun 2026 13:37 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 8 Samarinda di Kelurahan Rapak Dalam, Kecamatan Samarinda Seberang tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi siswa. Selama hampir satu tahun berjalan, program tersebut juga dinilai membentuk karakter gotong royong, disiplin, dan kebersamaan di lingkungan sekolah.

Kepala SMPN 8 Samarinda, Nur Zachrah Sari, menjelaskan sekolahnya mulai menerima program MBG antara September-Oktober 2025. Sejak awal pelaksanaan, pihak sekolah melakukan berbagai penyesuaian agar distribusi makanan kepada lebih dari 1.000 siswa tidak mengganggu proses belajar mengajar.

"Awalnya makanan dibagikan saat istirahat pertama. Tetapi karena jumlah siswa kami banyak, akhirnya kami berkomunikasi dengan pihak dapur dan sekarang pembagiannya dilakukan saat jam makan siang. Mereka sangat kooperatif mengikuti kebutuhan sekolah," ujarnya, kepada rri.co.id, Senin, 8 Juni 2026.

Penyesuaian juga dilakukan karena area sekolah yang cukup luas, mencapai hampir dua hektare. Mobil pengantar makanan hanya bisa berhenti di aula depan, sementara sebagian ruang kelas berada cukup jauh dari lokasi distribusi.

Untuk mengatasi hal itu, sekolah melibatkan guru dan siswa dalam proses pembagian makanan. Guru mendapat jadwal piket MBG, sedangkan siswa yang bertugas piket di kelas mengambil makanan dari aula untuk dibagikan kepada teman-temannya.

Menurut Nur, keterlibatan seluruh warga sekolah justru melahirkan dampak positif yang sebelumnya tidak terpikirkan.

"Gotong royongnya terlihat sekali. Mereka mengangkat makanan ramai-ramai, menjaga makanan sampai ke kelas dalam keadaan baik, lalu mengembalikannya bersama-sama. Dampak itu yang paling terlihat dari MBG ini," katanya.

Ia menuturkan, Sebelum makan siswa juga dibiasakan mencuci tangan, berdoa, lalu menikmati makanan secara bersama-sama di dalam kelas dengan pendampingan guru.

Suasana tersebut membuat siswa lebih akrab satu sama lain dan belajar saling peduli. Bahkan, turut menggugah rasa penasaran siswa akan terhadap makanan yang biasanya jarang mereka konsumsi.

"Kadang ada anak yang tidak suka satu jenis makanan atau buah dimakan sama temannya. Kata temannya 'enak loh ini kamu coba'. Dari sosialisasi kecil itulah anak-anak suka," ucapnya.

Selain mendukung pemenuhan gizi, Nur menilai MBG secara tidak langsung turut membentuk karakter anak secara alami. Ia menyebut kebiasaan antre, menjaga kebersihan, hingga bekerja sama dalam distribusi makanan merupakan nilai-nilai yang tumbuh seiring pelaksanaan program.

"Makanannya mungkin sederhana, nasi, tahu atau tempe. Tetapi ketika dimakan bersama-sama, diawali berdoa dan dilakukan dengan kebersamaan, itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Banyak pembelajaran positif yang muncul dari momen tersebut," kata dia, mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....