Merangkai Karya, Membuka Peluang bagi Penyandang Disabilitas

  • 18 Mei 2026 11:13 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Merangkai Karya, Membuka Peluang menjadi gambaran penting bahwa inklusi tidak hanya dimaknai sebagai penerimaan terhadap penyandang disabilitas di lingkungan sosial, tetapi juga bagaimana menghadirkan ruang yang setara untuk belajar, bekerja, dan berkarya. Semangat tersebut diangkat dalam Program “Ruang Disabilitas dan Inklusi” yang disiarkan RRI Samarinda melalui diskusi inspiratif mengenai pemberdayaan penyandang disabilitas lewat pelatihan keterampilan kreatif guna membangun kemandirian dan rasa percaya diri.

Owner Roda Seni Anthaqa, Emelda Andayani, menjelaskan pelatihan keterampilan yang diberikan bukan sekadar mengajarkan cara membuat produk, tetapi juga membangun keberanian dan rasa percaya diri peserta. Menurutnya, proses belajar menjadi langkah penting agar peserta mampu menemukan potensi yang ada dalam diri mereka.

“Kami ingin peserta menyadari bahwa sesuatu yang kecil pun bisa dirangkai menjadi karya yang bernilai,” ujar Emelda Andayani, dikutip Senin 18 Mei 2026, saat menjelaskan konsep pelatihan berbasis kain perca, sulam tangan, dan rajut yang dikembangkan oleh Roda Seni Antaqa.

Roda Seni Antaqa sendiri berdiri sejak 2019 dan bergerak di bidang pelatihan fashion serta produk handmade. Meski sempat vakum selama pandemi COVID-19, komunitas ini kembali aktif setelah mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Fokus utama mereka adalah melestarikan keterampilan handmade agar tetap diminati di tengah perkembangan industri fashion modern berbasis mesin.

Emelda mengaku kecintaannya terhadap dunia fashion dan budaya Samarinda menjadi inspirasi utama mendirikan ruang pelatihan tersebut. Ia ingin produk-produk handmade khas daerah tetap hidup dan memiliki nilai jual tinggi. Karena itu, pelatihan dibuka bagi siapa saja tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi fisik.

Komitmen terhadap inklusi mulai diwujudkan melalui kerja sama dengan organisasi penyandang disabilitas selama satu tahun terakhir. Dalam pelatihan terbaru yang digelar bersama pemerintah daerah, peserta disabilitas diberi kesempatan mempelajari teknik menjahit, membuat tote bag, hingga menyulam menggunakan mesin jahit portable yang lebih mudah dioperasikan.

Salah satu peserta pelatihan, Roshi Wanti mengaku awalnya merasa pesimis karena keterbatasan fisik yang dimilikinya. Namun setelah mengikuti pelatihan selama empat hari, ia berhasil membuat tas dan produk sederhana lainnya. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membangun kepercayaan dirinya.

“Saya kira tidak mampu karena hanya menggunakan satu tangan. Tapi ternyata bisa. Dengan belajar dan dibimbing mentor yang sabar, saya akhirnya dapat menghasilkan karya,” kata Roshi Wanti dalam dialog tersebut.

Menurut Roshi, suasana pelatihan terasa inklusif karena tidak ada perlakuan diskriminatif antara peserta disabilitas dan non-disabilitas. Semua peserta diperlakukan sama dan diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuan masing-masing. Hal itu membuat dirinya semakin yakin bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

Dukungan serupa juga datang dari Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Samarinda, Rica Rahim yang menyebut program seperti ini mampu mendorong rasa percaya diri para penyandang disabilitas. Ia mengaku sengaja mendorong beberapa anggota untuk mengikuti pelatihan meski sempat merasa minder dan takut mencoba.

“Tidak ada yang mustahil kalau tidak mencoba. Saya ingin semua disabilitas tidak ada lagi yang tertinggal dan semuanya berani maju,” ujar Rica saat menceritakan bagaimana ia memotivasi peserta untuk mengikuti pelatihan menjahit tersebut.

Ke depan, Roda Seni Antaqa berencana mengembangkan pelatihan berkelanjutan dengan sistem pendampingan sesuai potensi masing-masing peserta. Peserta yang memiliki kemampuan menjahit akan diarahkan ke pelatihan fashion, sedangkan yang lebih nyaman merajut atau menyulam akan difokuskan pada bidang tersebut. Program ini diharapkan menjadi ruang pemberdayaan yang mampu melahirkan karya sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi penyandang disabilitas di Samarinda dan Kalimantan Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....