Hardiknas, PLDPI Samarinda Perkuat Pendidikan Inklusif
- 10 Mei 2026 20:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum untuk kembali menyoroti pentingnya pendidikan inklusif di Indonesia. Di Samarinda, upaya tersebut terus diperkuat melalui layanan yang diberikan Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (PLDPI) bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha PLDPI Samarinda, Nihan Kristiyani menjelaskan pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga membangun karakter dan penerimaan terhadap keberagaman. Pendidikan harus mampu menciptakan generasi yang kompetitif sekaligus memiliki empati sosial.
“Refleksi yang penting di pendidikan Indonesia saat ini adalah membentuk sumber daya manusia melalui pendidikan, dengan membentuk karakter yang bisa menerima inklusivitas,” ujar Nihan Kristiyani kepada RRI Pro4 Samarinda.
PLDPI Samarinda berperan memberikan layanan asesmen, terapi hingga pendampingan sekolah inklusif untuk anak-anak berkebutuhan khusus tingkat TK hingga SMP. Anak-anak yang telah menjalani asesmen akan mendapatkan intervensi sesuai kebutuhan mereka, mulai dari terapi perilaku, terapi wicara hingga kelas transisi sebelum masuk sekolah reguler.
Selain mendampingi siswa, PLDPI juga memberikan pelatihan kepada guru-guru di sekolah umum. Pendampingan tersebut dilakukan agar tenaga pendidik mampu menangani peserta didik berkebutuhan khusus, dengan pendekatan yang tepat dan tidak diskriminatif.
Nihan menjelaskan tantangan terbesar saat ini masih berkaitan dengan keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas layanan. Tingginya antusiasme masyarakat membuat antrean asesmen dan terapi cukup panjang.
“Keterbatasan SDM menjadi tantangan utama karena antrean layanan cukup tinggi. Namun itu bukan alasan untuk menyerah, justru menjadi semangat bagi kami untuk meningkatkan pendidikan inklusif,” katanya, dikutip Minggu, 10 Mei 2026.
Di sisi lain, partisipasi masyarakat dinilai semakin positif. Hal itu terlihat dari adanya Forum Komunikasi Orang Tua Hebat (FKOH) hingga dukungan fasilitas publik yang mulai ramah disabilitas seperti guiding block di trotoar kota.
Perubahan juga mulai terlihat di lingkungan sekolah. Jika sebelumnya banyak sekolah ragu menerima siswa berkebutuhan khusus, kini semakin banyak sekolah yang terbuka setelah guru-guru mendapatkan pelatihan pendidikan inklusif.
PLDPI berharap kolaborasi antara sekolah, pemerintah, orang tua dan masyarakat terus diperkuat agar pendidikan inklusif benar-benar dapat dirasakan seluruh anak tanpa terkecuali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....