Akademisi Arsitektur Soroti Pentingnya Rumah Tahan Bencana di Samarinda
- 23 Apr 2026 11:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Akademisi arsitektur menekankan urgensi penerapan konsep rumah aman bencana di Kota Samarinda seiring tingginya frekuensi kejadian alam dan non-alam. Hatta Musthafa, arsitek sekaligus Ketua Jurusan Desain Politeknik Negeri Samarinda, menyebut upaya mitigasi harus menjadi kewajiban, bukan sekadar pilihan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mencatat sepanjang 2025 terjadi 151 kasus tanah longsor, 23 kejadian banjir, serta enam insiden kebakaran. Angka tersebut dinilai mencerminkan potensi bencana yang terus berulang di wilayah ini.
“Data ini menunjukkan bencana bukan lagi mitos, tapi realitas yang terus terjadi. Upaya menghadirkan rumah aman bencana wajib dilakukan,” ujarnya dalam obrolan SPADA Rabu, 22 April 2026.
Menurut Hatta, karakter bencana di Samarinda memiliki kekhasan tersendiri. Banjir dan longsor menjadi ancaman utama akibat kondisi geografis dan jenis tanah yang berbeda dengan wilayah lain seperti Pulau Jawa. Selain faktor alam, kebakaran juga menjadi risiko signifikan yang dipicu aktivitas manusia.
Ia menilai masih banyak aspek arsitektural yang kerap diabaikan masyarakat saat membangun rumah. Padahal, perencanaan yang tepat dapat menekan dampak bencana secara signifikan.
“Banyak kerusakan sebenarnya bisa dicegah sejak tahap desain. Selama ini ada hal-hal mendasar yang sering diabaikan,” katanya.
Konsep utama rumah aman bencana, lanjut dia, terletak pada kemampuan bangunan beradaptasi dengan kondisi tanah. Rumah harus dirancang agar selaras dengan struktur tanah di bawahnya.
“Rumah harus berdamai dengan tanah tempat dia berdiri. Jika tidak, akan muncul masalah seperti lantai terangkat atau dinding retak,” ujarnya.
Hatta menegaskan, pendekatan desain berbasis kondisi lokal menjadi kunci untuk mengurangi risiko kerusakan. Ia mendorong masyarakat dan pengembang lebih memperhatikan aspek teknis sebelum mendirikan bangunan, terutama di wilayah rawan bencana.
“Rumah boleh terlihat kokoh, tapi jika tidak selaras dengan kondisi tanah, risikonya tetap tinggi,” ucapnya.
Dengan tingginya angka kejadian bencana, kalangan akademisi menilai penerapan prinsip rumah tahan bencana perlu menjadi standar dalam pembangunan di Samarinda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....