Kisah Ibu Tangguh di Samarinda Dampingi Dua Anak Autisme Sekolah Inklusi

  • 15 Apr 2026 18:49 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di tengah dinamika kehidupan keluarga, Novita Abu Kandaria menjalani peran yang tidak sederhana. Ia adalah ibu dari dua anak penyandang autisme berusia 9 dan 6 tahun. Keduanya kini menempuh pendidikan di sekolah inklusi, sebuah pilihan yang diyakini mampu membuka ruang tumbuh dan interaksi sosial bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Anak pertamanya saat ini duduk di bangku kelas 3 SD Negeri 027 Pramuka, sementara sang adik bersekolah di TK Negeri 10. Sejak awal, Novita telah memastikan kedua anaknya mendapatkan akses pendidikan yang setara. Ia aktif mencari informasi, termasuk rekomendasi lembaga pendamping, demi menemukan sekolah yang tepat.

Proses pendaftaran sekolah, menurutnya, tidak menjadi kendala berarti. Dengan bekal informasi dari lembaga pendamping, ia dapat mengarahkan anak-anaknya masuk ke lingkungan pendidikan yang menerima keberagaman. Sekolah inklusi menjadi pilihan karena memberikan ruang bagi anak-anak istimewa untuk belajar bersama teman sebaya.

Namun, perjalanan tersebut bukan tanpa tantangan. Pada tahap awal, kesulitan terbesar adalah membangun kemampuan sosialisasi anak. Novita menuturkan pendekatan perlahan, pendampingan intensif, serta komunikasi dengan guru dan lingkungan sekolah menjadi kunci penting dalam proses adaptasi.

“Tantangan terbesar itu dari lingkungan, terutama bagaimana pandangan orang terhadap anak-anak kita. Awalnya pasti sedih ketika melihat anak dianggap berbeda,” ujar Novita.

Meski demikian, ia memilih untuk tidak berlarut dalam kesedihan. Ia justru mengambil langkah terbuka dengan menjelaskan kondisi anak-anaknya kepada lingkungan sekitar. Baginya, edukasi adalah cara paling efektif untuk menghapus stigma terhadap anak berkebutuhan khusus.

Di lingkungan tempat tinggal maupun sekolah, Novita selalu menyampaikan sejak awal anak-anaknya adalah anak berkebutuhan khusus. Ia meminta pengertian tanpa menginginkan perlakuan diskriminatif. Sikap terbuka ini perlahan membangun pemahaman dan penerimaan dari masyarakat sekitar.

Perjalanan menerima kondisi anak juga tidak instan. Awalnya, ia menyadari adanya keterlambatan bicara pada anak pertama yang belum mampu berbicara lancar hingga usia 4 tahun. Dari situ, ia mulai mencari informasi, berkonsultasi dengan tenaga profesional, hingga akhirnya menemukan jalur terapi yang tepat.

Kini, perkembangan anak-anaknya menunjukkan kemajuan. Dukungan keluarga, terutama suami, serta pendampingan dari lembaga terapi menjadi faktor penting. Novita memilih untuk fokus pada kelebihan anak-anaknya dan terus mengasah potensi yang dimiliki.

“Jangan pernah menyerah dan jangan berkecil hati. Anak-anak kita perlu kita, jadi kita harus kuat dan terus berusaha untuk mereka,” ucap Novita kepada para orang tua yang menghadapi situasi serupa.

Kisah Novita menjadi pengingat bahwa penerimaan, keterbukaan, dan dukungan lingkungan adalah fondasi penting dalam membangun masa depan anak-anak berkebutuhan khusus. Di balik segala tantangan, selalu ada harapan yang tumbuh dari keteguhan hati seorang ibu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....