Dewan Kesenian Kaltim Sambut Magister Kajian Budaya Unmul
- 03 Feb 2026 09:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalimantan Timur menyambut baik kehadiran Program Magister Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman. Program ini dinilai strategis dalam menjaga eksistensi kebudayaan asli daerah Kalimantan Timur secara akademis dan terdokumentasi dengan baik.
Ketua Harian Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Timur, Hamdani, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Lokakarya dan Uji Publik Kurikulum Magister Kajian Budaya yang digelar pada Selasa, 3 Februari 2026, di salah satu hotel di Samarinda.
“Keberadaan Magister Kajian Budaya ini sangat membantu Kalimantan Timur dalam menjaga eksistensi kebudayaan asli daerah, termasuk sejarah dan perkembangannya, agar dikaji secara akademis dan terdokumentasi dengan baik,” ujar Hamdani.
Menurutnya, pendekatan ilmiah dalam kajian budaya menjadi penting agar kekayaan budaya daerah tidak hanya lestari secara praktik, tetapi juga memiliki dasar akademik yang kuat sebagai referensi generasi mendatang.
Dalam forum tersebut, Hamdani juga menyampaikan masukan terhadap kurikulum yang disusun. Salah satunya terkait mata kuliah Pengkajian Seni yang diusulkan untuk diganti menjadi Pengkajian Warisan Budaya Takbenda.
“Di dalam pengkajian warisan budaya takbenda terdapat bahasan tentang cagar budaya, yang menurut kami lebih relevan dengan kebutuhan pelestarian budaya di Kalimantan Timur,” katanya.
Program Magister Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman merupakan satu-satunya program magister kajian budaya di Pulau Borneo. Program ini direncanakan mulai dibuka pada Maret 2026 mendatang.
Lokakarya dan uji publik kurikulum tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, M. Bahri Arifin. Ia menyatakan kehadiran Magister Kajian Budaya sangat tepat, terutama dalam menyambut hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kalimantan Timur akan menjadi wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara yang memiliki keragaman budaya. Karena itu, penguatan kajian budaya melalui jalur akademik menjadi sangat penting untuk menopang multikulturalisme,” ujar Bahri Arifin.
Ia berharap, program studi tersebut mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik dan kepekaan budaya dalam menghadapi dinamika sosial dan budaya di kawasan IKN dan Kalimantan Timur secara umum.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....