Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Masih Kekurangan Guru dan Fasilitas

  • 24 Jan 2026 08:12 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 Kalimantan Timur masih menghadapi sejumlah keterbatasan setelah berjalan empat bulan sejak beroperasi pada September 2025. Sejumlah hal yang masih menjadi pekerjaan rumah, di antaranya sarana-prasarana, kesiapan tenaga pendidik, hingga penanganan karakter siswa.

Kepala SRT 58 Kaltim, Rabiatul Adawiyah, mengatakan ruang belajar dan fasilitas pendukung masih terbatas, termasuk belum tersedianya laboratorium dan perpustakaan yang memadai. Kondisi tersebut membuat sekolah harus memanfaatkan ruang yang ada agar kegiatan belajar tetap berjalan.

"Ruangan belajar kami sangat terbatas kemudian juga tidak ada lab, perpustakaan kami gunakan ruangan. Kemudian sarana olahraga juga terbatas," ujarnya, kepada rri.co.id, Jumat, 13 Januari 2026.

Selain sarana prasarana, Rabiatul juga mengaku sempat menghadapi kendala dalam menangani karakter dan kebutuhan siswa. Misalnya, siswa yang memiliki keterlambatan berbicara (speech delay) atau berkebutuhan khusus.

Pasalnya, sementara ini sekolah belum memiliki tenaga pendidik yang sesuai untuk mendampingi mereka. "Ada siswa yang masuk ke sini mungkin sebetulnya dia berkebutuhan khusus, sedangkan kita kan tidak ada guru yang mampu menangani itu," ucapnya.

Kondisi tersebut pun membuat sekolah harus mengambil keputusan mengembalikan beberapa siswa karena tidak mampu memberikan pendampingan yang tepat.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Kaltim, Rabiatul Adawiyah. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Rabiatul mengakui jumlah guru mengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 saat ini memang belum mencukupi, terutama guru agama dan bimbingan konseling (BK). Padahal, persoalan perilaku siswa masih menjadi tantangan dalam proses pendidikan sehari-hari.

Misalnya, guru BK diperlukan untuk membimbing dan mengurangi kenakalan para siswa, seperti kebiasaan merokok.

"Kalau soal kenakalan udah agak menurun gitu, tetapi masih tetap menjadi PR buat kami seperti kebiasaan merokok anak. Kami sudah larang mereka merokok di lingkungan sekolah, cuma mereka curi-curi kesempatan," kata Rabiatul

Karena itu, ia berharap guru BK dan guru agama yang saat ini sudah pihaknya ajukan dapat segera datang mengajar di SRT 58.

Meski menghadapi keterbatasan, Rabiatul menilai perkembangan siswa mulai terlihat, baik dari sisi akademik maupun perilaku. Ia juga menilai, para siswa sangat antusias memasuki semester baru.

"Sempat dikhawatirkan mereka setelah liburan enggak balik lagi ke sini, tapi semuanya balik. Ternyata sekolah rakyat membuat mereka nyaman," ujar Rabiatul, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....