Preeklamsia Jadi Ancaman Serius Bagi Ibu Hamil
- 25 Agt 2026 15:50 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi serius pada kehamilan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi eklamsia dan menyebabkan komplikasi yang lebih berat.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Hermina Banda Aceh, dr. Shintya Habibie, Sp.OG., mengatakan preeklamsia umumnya ditandai dengan peningkatan tekanan darah setelah usia kehamilan 20 minggu. Kondisi tersebut dapat disertai adanya protein dalam urine maupun gangguan fungsi organ.
“Preeklamsia adalah komplikasi serius dalam kehamilan yang ditandai peningkatan tekanan darah, protein dalam urine, dan dapat disertai kegagalan organ,” kata dr. Shintya dalam Dialog Asokaya RRI Banda Aceh, Sabtu 22 Agustus 2026.
Menurutnya, preeklamsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi eklamsia yang ditandai dengan kejang pada ibu hamil.
Eklamsia merupakan kondisi darurat yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan membahayakan keselamatan ibu maupun janin.
Dr. Shintya menjelaskan, sejumlah gejala yang perlu diwaspadai antara lain tekanan darah tinggi, sakit kepala hebat, gangguan penglihatan seperti pandangan kabur, serta nyeri pada ulu hati.
“Kalau ada tekanan darah tinggi dengan gejala-gejala seperti itu, ibu harus lebih waspada dan langsung datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat,” ujarnya.
Selain itu, pembengkakan pada wajah dan tangan yang tidak membaik setelah beristirahat juga perlu diperiksa. Kondisi tersebut berbeda dengan pembengkakan ringan pada kaki yang relatif umum terjadi selama kehamilan.
Ia menyebutkan, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko preeklamsia, di antaranya usia ibu yang terlalu muda atau di atas 35 tahun, obesitas, jarak kehamilan yang terlalu dekat, serta riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya. Risiko juga meningkat pada ibu dengan hipertensi, diabetes, lupus, maupun penyakit tiroid.
Untuk mencegah komplikasi, dr. Shintya menekankan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin. Pemeriksaan diperlukan untuk memantau tekanan darah dan kondisi kesehatan ibu serta janin, sekaligus mendeteksi faktor risiko sedini mungkin.
Ibu yang merencanakan kehamilan juga dianjurkan mempersiapkan kondisi kesehatan sejak sebelum hamil, termasuk menjaga berat badan, pola makan, kualitas tidur, dan melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi tubuh.
“Persiapan prakonsepsi itu sangat penting. Kita perlu memeriksa tekanan darah, gula darah, dan berat badan sebelum memutuskan untuk hamil,” katanya.
Dr. Shintya mengingatkan, preeklamsia dapat terjadi tanpa gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin, termasuk pemantauan tekanan darah, menjadi langkah penting untuk mendeteksi kondisi tersebut lebih awal dan mencegah komplikasi yang lebih berat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....