Bangkok-nya Tanjungpinang di Gunung Kijang
- 02 Jan 2026 22:13 WIB
- Ranai
KBRN, Natuna: Tak perlu terbang jauh ke Thailand untuk merasakan nuansa khas Negeri Gajah Putih. Di Kabupaten Bintan, tepatnya di kawasan Gunung Kijang, berdiri sebuah wihara dengan arsitektur megah yang kerap dijuluki masyarakat sebagai “Bangkok-nya Tanjungpinang”. Keunikan bangunannya yang menyerupai kuil-kuil Asia Tenggara membuat tempat ini menarik perhatian wisatawan maupun pencinta wisata religi.
Wihara tersebut bernama Wihara Jing Gang Shan, sebuah kompleks ibadah yang mengadopsi arsitektur kuil Buddha Tiongkok bergaya Mahayana dengan konsep kawasan pegunungan. Nama Jing Gang Shan sendiri bermakna keteguhan spiritual atau Gunung Vajra, yang melambangkan kekuatan batin dan kebijaksanaan.
Begitu memasuki area wihara, pengunjung langsung disambut dua patung gajah khas Thailand yang berdiri di bagian depan. Kehadiran patung ini semakin menguatkan kesan “Bangkok” yang melekat pada tempat tersebut. Bangunan utama didominasi warna emas, merah, dan hitam, dengan struktur menyerupai stupa-stupa kecil yang mengingatkan pada kuil-kuil besar di Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara.
Secara simbolis, warna emas melambangkan kesucian dan kebijaksanaan dalam tradisi Buddhis dan Tionghoa. Warna merah dimaknai sebagai lambang keberuntungan dan energi positif, sementara warna hitam merepresentasikan kekuatan, keteguhan, serta makna filosofis yang mendalam. Perpaduan warna tersebut menciptakan kesan sakral sekaligus estetik.
Lokasi wihara ini berjarak sekitar 40 menit perjalanan dari pusat Kota Tanjungpinang. Penulis menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor dengan kondisi cuaca sempat mendung dan diselingi gerimis ringan. Meski demikian, cuaca segera membaik setibanya di lokasi, bahkan cahaya matahari yang tersisa justru memberi efek visual yang indah pada bangunan, membuatnya tampak semakin fotogenik.
Baca Juga : Kopi Hawai Kijang yang Melegenda
Di dalam kompleks wihara, setiap ruang pemujaan memiliki karakter tersendiri. Salah satu ruangan menampilkan deretan patung Buddha kecil yang tersusun menyerupai stupa, dengan ornamen dinding dan atap berbentuk cakar naga raksasa. Sosok naga yang tampak seolah mencengkeram ini tidak bermakna kekerasan, melainkan melambangkan perlindungan, kekuatan spiritual, serta penjagaan terhadap kesucian tempat pertapaan.
Pada sudut lainnya, terdapat miniatur stupa yang menyerupai Candi Borobudur, dilengkapi beberapa stupa kecil berwarna hitam dan emas. Menariknya, bagian puncak stupa ini berbentuk menyerupai chada, yaitu mahkota atau hiasan kepala tradisional Thailand yang biasa digunakan dalam upacara adat dan pertunjukan budaya.
Di antara bangunan tersebut, pengunjung juga dapat menjumpai beberapa patung Buddha tidur yang ditempatkan dalam diorama kaca. Patung ini dikenal sebagai Reclining Buddha, yang melambangkan peristiwa Parinirvana, yaitu saat Sang Buddha mencapai kebebasan sempurna dari siklus kehidupan. Posisi tubuh yang berbaring dengan wajah tenang mencerminkan kedamaian batin, kebijaksanaan, serta pelepasan dari keterikatan duniawi.
Keindahan kompleks wihara semakin lengkap dengan keberadaan kolam ikan, tanaman teratai, serta berbagai tanaman hias yang tertata rapi di sekeliling area. Unsur air dan vegetasi tersebut menciptakan suasana sejuk dan menenangkan, sekaligus memperkuat nilai harmoni antara alam dan spiritualitas.
Secara keseluruhan, Wihara Jing Gang Shan bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi dan budaya yang menawarkan pengalaman visual, filosofis, dan spiritual. Perpaduan arsitektur megah, simbol-simbol bermakna, serta suasana yang tenang menjadikan tempat ini layak dikunjungi bagi siapa saja yang ingin mengenal sisi lain kekayaan budaya di Bintan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....