Perbedaan Dot pada Anak Sumbing dan Anak Normal
- 14 Agt 2026 20:40 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna-Bayi dengan kondisi rongga mulut normal umumnya memiliki struktur bibir, gusi, langit-langit, lidah, dan otot pipi yang memungkinkan proses mengisap serta menelan berlangsung lebih efektif. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proses menyusu membutuhkan koordinasi lidah, langit-langit, gusi, dan otot-otot pipi agar bayi dapat membentuk tekanan dan mengeluarkan ASI secara efektif.
Pada bayi dengan struktur rongga mulut normal, pemberian ASI secara langsung biasanya dapat dilakukan dengan perlekatan yang tepat, sedangkan penggunaan botol dan dot memiliki mekanisme yang berbeda dari menyusu pada payudara.Pada bayi sumbing, terdapat celah pada bibir dan/atau langit-langit yang dapat mengganggu kemampuan membentuk tekanan di dalam mulut ketika menyusu.
Kondisi ini menyebabkan cara pemberian susu tidak selalu dapat disamakan dengan bayi tanpa sumbing. IDAI menjelaskan bahwa apabila celah hanya terdapat pada bibir atau langit-langit, bayi pada kondisi tertentu masih dapat disusui dengan posisi yang disesuaikan.
Namun, apabila celah cukup luas dan melibatkan bibir, gusi, serta langit-langit keras, bayi dapat memerlukan alat bantu agar dapat minum dengan lebih aman dan efektif.Perbedaan utama dot untuk bayi sumbing dan bayi dengan rongga mulut normal bukan semata-mata pada bentuk dot, tetapi pada kebutuhan bayi dalam mendapatkan aliran susu.
Pada bayi dengan rongga mulut normal, dot botol dapat memberikan susu melalui mekanisme yang relatif pasif karena aliran dipengaruhi oleh kemiringan botol, ukuran lubang dot, serta karakteristik bahan dot. Sebaliknya, bayi sumbing dapat mengalami kesulitan mempertahankan tekanan negatif di dalam mulut sehingga pemilihan metode dan alat pemberian susu perlu mempertimbangkan kemampuan bayi mengisap dan menelan.
Pada bayi sumbing yang mengalami kesulitan menyusu langsung, IDAI menyebutkan beberapa alternatif pemberian ASI perah, antara lain menggunakan pipet, cangkir, atau sendok, terutama bila celah cukup luas. Bayi dianjurkan berada dalam posisi agak tegak untuk membantu proses pemberian minum dan mengurangi risiko tersedak.
Penggunaan dot tidak selalu menjadi pilihan utama pada bayi sumbing karena kebutuhan setiap bayi berbeda dan harus disesuaikan dengan kondisi anatomi serta kemampuan minumnya.IDAI juga mengingatkan mengenai fenomena bingung puting, yaitu keadaan ketika bayi mengalami kesulitan beradaptasi antara menyusu langsung pada payudara dan minum menggunakan botol atau dot.
Penggunaan dot pada masa awal menyusui dapat memengaruhi pola mengisap karena mekanisme mengisap dari botol berbeda dengan menyusu pada payudara. Oleh sebab itu, bila bayi masih dalam tahap membangun kemampuan menyusu, pemberian ASI perah dengan cangkir atau sendok dapat dipertimbangkan apabila memang diperlukan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....