Memilih Obat yang Aman bagi Pasien Diabetes Plus Gemuk

  • 27 Jun 2026 07:41 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Belakangan ini banyak pasien obesitas bertanya tentang Ozempic, Semaglutide atau obat GLP1 yang sedang ramai, ada yang dengar dari media sosial, ada yang dengar dari teman, ada juga yang melihat orang turun berat badan lalu langsung bertanya, "Dok, saya diabetes, berarti saya cocok dong pakai ini". Nah jawabannya tidak sesederhana itu, dalam kedokteran, obat yang bagus tetap harus diberikan ke pasien yang tepat, berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :

Banyak pasien diabetes yang juga punya hipertensi, kolesterol tinggi, berat badan berlebih, riwayat serangan jantung, atau bahkan sudah pasang ring, jadi ketika membahas obat diabetes, maka tidak hanya tentang gulanya turun atau tidak, kita juga harus mengetahui kesehatan jantungnya terlindungi atau tidak, berat badannya terbantu atau tidak, resiko jangka panjangnya itu bagaimana?. Semaglutide adalah obat golongan GLP1 reseptor agonis, untuk pasien diabetes tipe 2, obat ini membantu meningkatkan pelepasan insulin saat gula darahnya naik, menurunkan glukagon yang berlebihan, memperlambat pengosongan lambung, dan membantu rasa kenyang bertahan lebih lama, hasilnya gula darah bisa lebih terkontrol dan berat badan seringki ikutan turun, jadi ini bukan sekedar obat gula.

Pada pasien tertentu efek metaboliknya bisa lebih luas, tapi perlu diingat bahwa pasien diabetes itu berbeda-beda, ada pasien diabetes yang kurus, ada yang obesitas, ada yang baru terdiagnosis, ada yang sudah lama, ada yang ginjalnya masih baik, ada yang fungsi ginjalnya sudah menurun, ada yang sudah pernah kena serangan jantung dan ada yang tidak, jadi obat diabetes tidak bisa dipilih seperti memilih menu minuman. Dalam sustain 6 trial yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine tahun 2016, semaglutide itu diteliti pada pasien diabetes tipe 2 dengan risiko kardiovaskular yang tinggi, hasilnya kejadian gabungan kematian kardiovaskular, serangan jantung nonfatal atau stroke nonfatal lebih rendah pada kelompok semaglutide dibandingkan placebo, dan ini menjadi salah satu alasan kenapa obat golongan GLP1 semakin diperhatikan pada pasien diabetes dengan risiko jantung yang tinggi.

Jadi pasien diabetes seperti apakah yang biasanya cocok untuk dapat obat tambahan ini?

  1. Pasien diabetes tipe 2 dengan berat badan berlebih atau obesitas.

  2. Pasien diabetes dengan gula darah yang belum saja mencapai targetnya.

  3. Pasien diabetes dengan risiko kardiovaskuler yang tinggi, misalnya sudah pernah punya riwayat jantung, pernah mengalami stroke, ada hipertensi atau kolesterolnya tinggi.

  4. Pasien yang butuh pendekatan yang membantu penurunan berat badan.

Tidak semua pasien diabetes harus memakai semaglutide, ada banyak pilihan obat lain seperti metformin, SGLT2 inhibitor, insulin, suvalni ooreaka, DPP4 inhibitor, dan lain-lain. Pemilihan obatnya tergantung pada kondisi pasien, kadang yang paling cocok itu bukan yang paling viral, tapi yang paling sesuai dengan tubuhnya, dengan targetnya, dengan keamanan dan kemampuan pasien.

Obat itu bukan konten FYP, tidak harus ikutan tren, yang penting jangan berhenti obat diabetes lama tanpa konsultasi, ada pasien yang begitu melihat obat baru langsung merasa obat lamanya tidak layak lagi, padahal obat lama bisa saja masih sangat penting. Mengganti, menambah, atau mengurangi obat diabetes itu harus dilakukan dengan dokter, karena target gula darah, resiko hipoglikemia, fungsi ginjal, fungsi hati, dan pengaruh dari obat lain juga perlu diperhatikan.

Selain itu juga memiliki efek samping seperti misalnya mual, muntah, rasa penuh, begah, diare, atau konstipasi yang bisa terjadi tapi angka kejadiannya rendah. Ini umumnya muncul pada awal terapi atau saat dosisnya mulai ditingkatkan, karena itu dosisnya biasanya dinaikkan bertahan, bukan langsung dosisnya tinggi demi cepat turun.

Ada juga kondisi yang harus ditanyakan ke dokternya seperti riwayat pankreatitis, gangguan kandung empedu, masalah saluran cerna berat atau kondisi lain yang membuat terapinya harus lebih hati-hati. Pada pasien diabetes, dokter juga perlu melihat risiko hipoglikemia bila semaglutide ini dikombinasikan dengan obat tertentu seperti insulin atau suflorea. Jadi, pemantauan tetaplah penting.

Dari sisi gaya hidup, obat ini juga bukan izin untuk makan bebas, justru kalau pasien diabetes memakai obat ini sambil memperbaiki makan, aktivitas fisiknya, tidurnya, dan kontrol rutin, hasilnya bisa jauh lebih masuk akal. Gula darah bukan hanya musuh yang perlu diserang obat, gula darah juga dipengaruhi oleh nasi, minuman manis, cemilan, stres, begadang, dan aktivitas.

Jadi kalau misalnya malam masih rutin minum teh manis dalam jumlah banyak, obat secanggih apapun juga tidak akan memberikan efek. Jadi untuk pasien diabetes tipe 2 dengan berat badan berlebih atau resiko jantung yang tinggi, semaglutide bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dibahas dengan dokter Anda, bukan karena viral tapi karena ada dasar ilmiahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....