Tips Menghadapi Lansia yang Mulai Pikun

  • 24 Jun 2026 16:33 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Lansia yang mulai pikun sering terlihat seperti anak kecil. Tapi jangan lupa, mereka bukan anak kecil, mereka adalah orang dewasa yang dulu mungkin sangat kuat, sangat mandiri, sangat dihormati. Lalu pelan-pelan tubuh dan pikirannya mulai mengambil banyak hal darinya. Lalu bagaimana cara menghadapi lansia yang sudah mulai pikun? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :

Ada beberapa cara menghadapi lansia yang mulai pikun :

  1. Jangan berdebat terlalu panjang. Kalau setiap nasehat berubah jadi perang, yang lelah itu bukan hanya pasien, keluarga juga habis tenaga. Untuk lansia yang mulai pikun, seringkiali kalimat pendek itu lebih efektif daripada ceramah panjang. Jangan bilang, "Bapak ini susah sekali diatur, udah dibilang berkali-kali jangan merokok." Coba ganti dengan “Pak, kita kurangi rokoknya pelan-pelan ya, biar nafas Bapak lebih enak. Saya masih ingin Bapak ngobrol lama sama cucu”. Nada bicara itu kadang lebih penting daripada isi kalimat.

  2. Jangan hanya mengandalkan ingatan pasien. Kalau pasien mulai sering lupa obat, jangan berharap dia tiba-tiba disiplin hanya karena dimarahin. Buat sistem, pakai kotak obat harian, tulis jadwal obat besar-besar, tempel di tempat yang mudah terlihat. Pisahkan obat pagi, siang, sore, malam. Kalau perlu, keluarga yang pegang obatnya. Bukan untuk mengontrol seperti sipir penjara, tapi untuk menjaga agar obat penting tidak diminum sembarangan, tidak doble, dan tidak terlewat. Karena pada pasien jantung, darah tinggi, PPOK, atau diabetes, obat yang diminum tidak teratur bisa membuat penyakit yang tadinya stabil menjadi kacau lagi.

  3. Pahami bahwa kalau sesak baru minum obat itu pola pikir yang berbahaya. Banyak pasien berpikir obat itu hanya diminum saat sakit. Padahal sebagian obat jantung dan tekanan darah justru bekerja untuk mencegah keadaannya memburuk. Tekanan darah tinggi seringkiali diam. Penyempitan pembuluh darah bisa lama tidak terasa, jantung yang membesar tidak selalu langsung memberi tanda. Tubuh jarang langsung teriak, biasanya dia berbisik dulu. Banyak orang baru percaya tubuhnya sakit setelah tubuhnya benar-benar tumbang.

  4. Untuk rokok jangan hanya melarang dan sebaiknya buat strategi. Kalau lansia sudah merokok puluhan tahun, kalimat berhenti sekarang juga itu kadang terasa seperti mengambil satu-satunya teman lamanya. Bukan berarti kita membiarkan, tapi pendekatannya harus realistis. Kurangi jumlahnya, jauhkan stok rokok, dan jangan sediakan asbak di rumah, alihkan kebiasaan setelah makan, dan libatkan dokter bila perlu. Kalau ada PPOK, sesak, penyakit jantung, atau nyeri dada, jelaskan pelan-pelan bahwa rokok itu bukan sekedar kebiasaan yang buruk, rokok itu bisa membuat nafasnya makin sempit dan kerja jantung makin berat. Tapi sampaikan tanpa mempermalukan, karena orang yang merasa diserang itu biasanya tidak mendengar nasihat melainkan dia hanya bersiap membela diri.

  5. Jangan semua keluarga memberi instruksi bersamaan. Kadang satu pasien lansia dikelilingi lima orang. Anak pertama bilang begini, anak kedua bilang begitu., menantu menegur, cucu ikutan komentar, akhirnya pasien bingung, kesal, lalu menolak semuanya. Lebih baik tunjuk satu atau dua orang yang jadi pengingat utama, bahasanya itu disepakati, jadwal obatnya disamakan, pesannya dibuat sederhana. Nah, merawat lansia itu butuh kerja sama tim, dan juga bukan keramaian.

  6. Bedakan pikun biasa dengan tanda bahaya. Lupa menaruh kacamata mungkin masih sering terjadi. Tapi kalau mulai sering lupa jalan pulang, lupa nama anggota keluarga dekat, sering curiga berlebihan, berubah perilaku yang drastis, sering jatuh, bicara pelo, lemah satu sisi tubuh, atau mendadak bingung, berat, nah itu jangan dianggap biasa. Lansia itu bisa tampak pikun, padahal ada infeksi, gula darah tidak stabil, gangguan elektrolit, efek obat, stroke, atau masalah lain yang perlu diperiksa. Jadi kalau perubahannya itu mendadak, jangan cuman bilang, "Yah, namanya juga udah tua." Karena tidak semua yang terjadi pada lansia itu boleh kita pasrahkan pada umur.

  7. Keluarga juga harus menjaga dirinya sendiri. Nah, ini penting. Merawat lansia yang sakit kronis dan mulai pikuni itu melelahkan. Kadang membuat emosi naik, kadang membuat kita merasa bersalah setelah marah, kadang membuat kita menangis diam-diam karena rasanya itu tidak ada habisnya, dan itu sangat manusiawi. Sabar bukan berarti tidak pernah capek, sabar itu berarti kita capek tapi tetap mencoba tidak menyakiti. Kalau keluarga mulai kelelahan, bagi tugas buat jadwal minta bantuan saudara. Jangan semua beban ditanggung satu orang. Karena caregiver yang hancur itu juga akhirnya tidak bisa merawat dengan baik.

Intinya menghadapi lansia yang mulai pikun bukan hanya soal obat, tekanan darah, rokok, atau jadwal kontrol. Ini soal menerima bahwa orang tua kita pelan-pelan berubah, dulu mungkin mereka yang mengingatkan kita makan, nah sekarang kita yang mengingatkan mereka minum obat. Dulu mereka yang menggendong kita saat menyeberang jalan, sekarang kita yang menggendong mereka masuk ruang periksa. Dulu mereka sabar menghadapi kita yang sulit diatur, sekarang giliran kita belajar sabar menghadapi mereka yang mulai sulit mengingat. Jadi kalau hari ini orang tua kita membandel, lupa obat, masih merokok, atau marah saat dinasehhati, tarik nafas dulu.

Tegas boleh, marah sedikit kadang manusiawi. Tapi jangan sampai kita lupa bahwa di balik keras kepalanya ada tubuh yang makin lemah, otak yang mulai lelah, dan ada orang tua yang mungkin sebenarnya juga takut kehilangan dirinya sendiri. Merawat lansia itu bukan hanya memperpanjang umur. Kadang merawat lansia adalah cara paling sunyi untuk membalas cinta yang dulu tidak pernah mereka hitung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....