10 Faktor Resiko dan Pemicu Autoimun pada Wanita
- 22 Mei 2026 11:04 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Melansir ALODOKTER; Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa penyakit di antaranya memiliki gejala serupa, seperti lelah, nyeri otot, dan demam. Pernah tidak Anda terpikir kenapa penyakit autoimun lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pria? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :
Secara medis, penyakit autoimun yang sistemik memang dapat meningkatkan peradangan kronis yang berkaitan dengan risiko gangguan pada pembuluh darah. Analogi sederhananya, autoimun itu ibarat sistem keamanan rumah yang keliru membaca situasi. Niatnya melindungi diri dari maling. Tapi karena salah paham, dia justru merusak furniture dan dinding rumah sendiri. Karena itu penting bagi wanita untuk memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko atau memicu kekambuhan agar kesehatan jantungnya pun tetap terlindungi, seperti uraian berikut ini :
Kombinasi genetik kromosom X dan jenis kelamin. Secara biologis, wanita cenderung memiliki respon imun yang berbeda dan pada kondisi tertentu lebih aktif dibandingkan pria. Yang ikut menjelaskan mengapa hampir 80% penderita autoimun adalah wanita, maka anggap saja ini sebagai bawaan pabrik yang membuat sistem pertahanan tubuh wanita itu lebih waspada. Sehingga jika ada riwayat keluarga yang terkena, radar kewaspadaan kita terhadap kesehatan itu harus dipasang lebih tinggi daripada orang lain.
Pengaruh hormonal sejak masa pubertas. Siklus bulanan, kehamilan, hingga menopaus dapat mempengaruhi kerja sistem imun. Hormon seks seperti estrogen memiliki hubungan yang erat dengan sel-sel pertahanan tubuh kita. Sehingga fluktuasi hormonal yang tajam pada orang yang memiliki kerentanan genetik itu dapat berperan dalam munculnya gejala atau keluhan. Jadi saat masa transisi hormonal tersebut sangat penting bagi wanita untuk menjaga kondisi tubuh agar sistem imun tidak mudah terprovokasi oleh perubahan internal ini.
Penggunaan obat-obatan jangka panjang atau suplemen tertentu tanpa pengawasan medis juga patut diperhatikan karena beberapa zat itu dapat memicu reaksi imun yang tidak diinginkan. Ada kondisi yang disebut sebagai drug indus lupus di mana obat tertentu itu memicu gejala yang mirip autoimun pada orang-orang yang rentan secara biologis. Oleh karena itu, jangan pernah mengkonsumsi obat keras atau produk kesehatan yang tidak jelas kandungannya hanya karena testimoni dari media sosial. Sebab tubuh kita adalah laboratorium yang sangat sensitif terhadap zat asing.
Paparan lingkungan seperti polusi udara, pestisida, hingga pelarut kimia tertentu yang sering kita temui di kehidupan perkotaan. Bahan-bahan toksik ini jika masuk ke tubuh secara terus-menerus dan dapat memicu stres oksidatif dan gangguan regulasi pada sistem imun kita. Pada orang yang rentan, paparan lingkungan ini bisa menjadi tombol yang menyalakan peradangan kronis. Sehingga sistem imun mulai kesulitan membedakan mana kawan, mana lawan di dalam sel tubuh kita sendiri.
Masalah yang sangat umum di Indonesia namun sering disepelekan adalah kekurangan vitamin D yang sebenarnya berperan penting sebagai imunodulator. Sekitar 70% orang Indonesia itu kekurangan vitamin D. Vitamin D bukan sekedar untuk kekuatan tulang, tapi juga bertindak seperti pengawas yang mengatur agar sistem imun bekerja sesuai porsinya dan tidak ugal-ugalan. Kadar vitamin D yang rendah itu banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko aktivitas penyakit autoimun. Sehingga memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi adalah langkah awal yang cerdas untuk menjaga keseimbangan pertahanan tubuh kita.
Kondisi mikrobioma usus yang tidak seimbang atau yang biasa disebut sebagai disbiosis. Karena ternyata pusat pertahanan tubuh kita itu sebagian besar berada di saluran cerna. Jika kita terlalu sering mengkonsumsi makanan olahan yang mengganggu keseimbangan bakteri baik, maka anus bisa mengalami peningkatan permeabilitas atau gangguan pada barriernya. Nah, kondisi ini membuat sistem imun itu lebih mudah teraktivasi oleh zat-zat yang seharusnya tetap berada di dalam usus sehingga bisa memicu peradangan sistemik yang berdampak luas ke seluruh tubuh kita.
Stres kronis dan kurang tidur. Dizaman sekarang kurang tidur sering dianggap sebagai lencana dari produktivitas. Padahal ini berbahaya bagi regulasi imun. Kurang tidur bisa mengganggu hormon stres dan mekanisme pembersihan sel yang pada orang rentan bisa memperburuk peradangan atau memicu kekabuhan gejala autoimun. Tidur bukan sekedar waktu istirahat, melainkan waktu bagi sistem imun untuk melakukan kalibrasi ulang agar keesokan harinya dia bisa bekerja dengan lebih presisi dan tidak mudah salah sasaran.
Obesitas, terutama penumpukan lemak viseral di area perut yang secara medis itu bertindak sebagai pabrik peradangan aktif di dalam tubuh kita. Sel lemak yang berlebih ini terus-menerus mengeluarkan sinyal inflamasi yang tidak hanya mengganggu metabolisme dan kesehatan jantung, tapi juga berkontribusi pada disregulasi sistem imun. Nah, mengontrol berat badan itu bukan sekedar soal penampilan, melainkan upaya krusial untuk menurunkan beban peradangan kronis agar sistem imun tidak berada dalam kondisi yang tegang sepanjang hari.
Infeksi kronis atau berulang yang dapat membuat sistem imun terus-menerus teraktivasi tanpa henti. Dalam medis kita mengenal istilah molekular mimikri di mana struktur dari virus atau bakteri itu menyerupai protein di tubuh kita sendiri sehingga sistem imun yang awalnya itu ingin membasmi kuman justru ikut bereaksi terhadap jaringan sehat. Nah, inilah alasan mengapa kita tidak boleh menyemelekkan infeksi yang sering kambuh. Karena setiap pertempuran yang lama akan meninggalkan jejak kelelahan pada sistem pertahanan tubuh kita. Contohnya infeksi kronis berulang yang bisa memicu hal tersebut
seperti gigi bolong dan gusi bengkak. Nah, itu adalah pabrik kuman yang bisa terus-menerus memicu sistem imun kita. Atau sering ada radang tenggorokan atau skabie yang sering gatal-gatal digaruk infeksi. Nah, itu juga bisa menjadi penyebab kenapa sistem imun itu menjadi kacau.
Paparan asap rokok. Bagi banyak wanita di Indonesia resikonya itu sering datang dari asap rokok orang lain di sekitar mereka atau perokok pasif. Zat kimia dalam asap rokok itu bersifat sangat toksik dan berkaitan erat dengan peningkatan risiko beberapa penyakit autoimun serta pembentukan auto antibodi. Menghirup asap rokok lingkungan berbahaya karena dapat memicu stres oksidatif yang menjadi pintu masuk bagi kekacauan respon imun yang merugikan pembuluh darah di jantung kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....