Cara Menghadapi Orang yang Playing Victim

  • 25 Mar 2026 12:36 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Sikap playing victim berhubungan dengan orang lain, baik hubungan asmara, keluarga, maupun pertemanan, bisa mengarah ke toxic, Karena selalu merasa menjadi “korban”, orang yang suka playing victim bisa membuat orang lain merasa bersalah.

Hal ini bisa menimbulkan banyak kesalahpahaman dan memicu stres bagi pihak yang terlibat. Alasan seseorang bersikap playing victim cukup beragam, mulai dari melindungi dirinya sendiri dari kesalahan, hingga tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sulit untuk menghadapi orang yang memiliki sikap playing victim. Meski menjengkelkan, ingatlah bahwa orang yang perilakunya toxic ini mungkin pernah menghadapi peristiwa yang menyakitkan dan menyulitkan dalam hidupnya, sehingga ia mengembangkan sikap playing victim.

Dari alodokter, Agar tidak salah langkah dan justru memperburuk keadaan, Beberapa cara yang bisa di lakukan untuk menghadapi orang yang playing victim secara bijak:

  • Jangan terlalu cepat memberikan validasi “korban” ke orang lain yang sedang menceritakan bahwa dirinya lah yang tersakiti.
  • Tetap tunjukan sikap empati.
  • Biarkan orang tersebut berbicara dan berbagi perasaan.
  • Jangan biarkan diri Anda terjebak dalam cerita dari sudut pandang orang yang playing victim. Tetaplah objektif dan cari fakta sendiri dari beberapa orang yang terlibat dalam ceritanya tersebut.
  • Jangan meminta maaf bila Anda merasa bukan Anda yang harus disalahkan.
  • Sebaiknya, hindari “menyerang” orang yang playing victim dan tetaplah bersikap tenang.
  • Bila dirasa sikapnya telah mengganggu dan berlebihan, ajaklah untuk berbicara dengan psikolog untuk menemukan solusi yang tepat.

Playing victim bukanlah sikap yang dimiliki sejak lahir. Sikap ini bisa muncul sebagai akibat dari trauma masa lalu atau mindset yang salah dan bisa diperbaiki secara perlahan-lahan melalui terapi psikologis.

Oleh karena itu, jangan ragu menyarankan orang terdekat atau mungkin Anda sendiri untuk berkonsultasi ke dokter , terutama bila pernah mengalami kejadian yang traumatis dan tidak menemukan cara untuk mengatasi tekanan batin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....