Perbedaan Saraf Pusat dan Saraf Tepi

  • 20 Feb 2026 14:33 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Sistem saraf manusia terbagi menjadi dua komponen utama, yakni saraf pusat dan saraf tepi, yang memiliki fungsi serta kemampuan pemulihan yang sangat berbeda. Memahami perbedaan keduanya menjadi penting dalam menilai peluang kesembuhan seseorang setelah mengalami cedera saraf.

Saraf pusat mencakup otak dan sumsum tulang belakang yang berperan sebagai pusat pengendali seluruh aktivitas tubuh. Menurut pakar bedah saraf dalam Siniar Hoho-Hihi On The Weekend, dr. Asadullah, SpBS, F-TB, jaringan saraf pusat memiliki kerentanan tinggi dan kemampuan regenerasi yang sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan struktural atau putusnya jaringan, perbaikan secara anatomis hampir tidak dapat dilakukan.

Hingga saat ini, penanganan cedera saraf pusat lebih difokuskan pada upaya memaksimalkan fungsi jaringan saraf yang masih utuh di sekitarnya. Pendekatan ini dilakukan melalui terapi dan rehabilitasi intensif, karena jaringan saraf pusat tidak mampu beregenerasi secara spontan dalam skala yang bermakna.

Berbeda dengan itu, saraf tepi merupakan jaringan saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang dan menjalar ke lengan, kaki, serta organ perifer lainnya. Saraf ini bertanggung jawab atas fungsi gerak dan sensasi, serta memiliki kemampuan pemulihan yang relatif lebih baik dibandingkan saraf pusat.

Dr. Asadullah menjelaskan bahwa secara medis, saraf tepi masih dapat direkonstruksi melalui tindakan bedah jika mengalami putus atau cedera berat.

“Kalau yang di tepi itu bisa disambung, kalau yang di pusat biasanya enggak bisa. Pusat itu yang dari otak dan sumsum saraf tulang belakang itu enggak bisa disambung, tapi kalau begitu dia sudah keluar... nah misalnya di sini (ketiak), itu bisa disambung itu,” paparnya.

Meski demikian, baik cedera saraf pusat maupun saraf tepi tetap membutuhkan stimulasi lanjutan agar fungsi tubuh dapat pulih secara optimal. Fisioterapi berperan penting dalam merangsang sel-sel saraf yang masih aktif untuk mengambil alih fungsi yang terganggu melalui pembentukan jalur saraf baru.

Sebagai penutup, dr. Asadullah menekankan bahwa keterbatasan regenerasi saraf pusat menjadikan upaya pencegahan sebagai langkah paling krusial. Menjaga postur tubuh, menghindari trauma, dan melindungi tulang belakang merupakan investasi utama untuk mempertahankan fungsi sistem saraf dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....