Puasa Menurut Perspektif Medis dan Fiqih Kesehatan

  • 18 Feb 2026 10:35 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna – Ramadhan adalah bulan ibadah, bukan bulan pembuktian siapa yang paling kuat. Dalam Al-Qur'an sendiri Allah memberikan keringanan bagi orang sakit atau dalam perjalanan. Artinya sejak awal Islam itu sudah sangat realistis dan penuh kasih sayang terhadap kondisi fisik manusia. Secara medis, puasa adalah kondisi dimana tubuh tidak mendapatkan asupan kalori dan cairan selama beberapa jam. Bagi orang sehat, ini adalah sesuatu yang bisa diadaptasi dengan baik. Tubuh memiliki cadangan energi, selai itu juga memiliki sistem hormonal yang cerdas, dan mampu menyesuaikan diri. Namun, tidak semua kondisi tubuh itu berada dalam kategori sehat stabil. Lalu sebenarnya siapakah yang boleh berpuasa dan siapa yang secara medis sebaiknya tidak memaksakan diri?

Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP pada akun Yutube @DrErtaSpJP :

Ada kelompok-kelompok tertentu yang harus mempertimbangkan dengan sangat serius sebelum memutuskan berpuasa.

  1. Pasien dengan penyakit jantung tidak stabil.

Misalnya baru saja mengalami serangan jantung dalam beberapa minggu terakhir, memiliki angina atau nyeri dada yang masih sering kambuh atau mengalami gagal jantung yang masih dirasakan sesak saat aktivitas ringan. Dalam kondisi seperti ini, tubuh sedang dalam fase pemulihan. Memaksakan puasa bisa memperberat kerja jantung. Pasien gagal jantung berat misalnya, seringkiali membutuhkan obat di beberapa jam tertentu dan perlu kontrol cairan yang ketat. Jika terjadi dehidrasi, maka tekanan darah bisa turun, fungsi ginjal bisa terganggu, dan kondisi jantung bisa memburuk. Ini bukan soal iman, ini soal fisiologi manusia.

  1. Pasien diabetes dengan kontrol gula darah yang buruk.

Jika gula darahnya itu seringki sangat tinggi atau justru sedang turun drastis, maka puasa bisa meningkatkan risiko hipoglikemia atau hiperglikemia berat. Gula darah yang turun terlalu rendah bisa menyebabkan pingsan, kejang, bahkan kondisi gawa darurat. Namun tidak semua pasien diabetes otomatis tidak boleh berpuasa.

Banyak pasien diabetes tipe 2 yang stabil dengan pengaturan obat yang tepat tetap bisa berpuasa dengan aman. Kuncinya adalah konsultasi dulu ke dokter sebelum Ramadhan, bukan konsultasi setelah masuk IGD.

  1. Ibu hamil yang menyusui juga masuk kategori yang perlu pertimbangan khusus.

Jika kondisi ibunya sehat, berat badannya baik, dan tidak ada komplikasi, maka bisa tetap berpuasa dengan pengawasan. Tetapi jika ada risiko seperti anemia berat, tekanan darah rendah, atau pertumbuhan janin yang terhambat, maka keselamatan ibu dan bayi harus diutamakan.

  1. Anak yang belum balik secara syariat memang belum wajib berpuasa.

Dari sisi medis, anak yang masih dalam masa pertumbuhan cepat membutuhkan asupan nutrisi dan cairan yang cukup. Melatih puasa boleh secara tapi scara bertahap, jangan sampai memaksakan hingga anak lemas atau dehidrasi.

  1. Lansia juga perlu evaluasi khusus.

Banyak orang tua yang semangatnya luar biasa. Semangat ini patut dihargai tapi tetap harus realistis. Jika ada riwayat stroke, gagal jantung, gangguan ginjal, atau sering jatuh karena tekanan darahnya rendah sehingga orangnya sering pusing, resiko jatuhnya tinggi, maka perlu dulu diskusi dengan dokter sebelum berpuasa.

  1. Pasien dengan penyakit ginjal kronis juga termasuk kelompok yang harus sangat berhati-hati.

Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk bisa bekerja optimal. Dehidrasi berkepanjangan bisa memperburuk fungsi gijal, terutama pada stadium lanjut. Orang dengan gangguan lambung seperti Gerd itu sering bertanya, "Apakah boleh berpuasa?" Pada banyak kasus geder ringan sampai sedang, puasa itu justru bisa membantu jika pola makannya itu bisa dipastikan teratur dan tidak berlebihan saat berbuka. Tapi jika sampai muncul tukak kelambung yang aktif atau muntah darah sebelumnya, tentu harus dievaluasi lebih lanjut.

  1. Ada juga pasien yang rutin minum obat beberapa kali sehari.

Misalnya dalam sehari minum tiga atau empat kali sehari dengan interval tertentu. Dalam beberapa kasus, jadwal obat itu bisa disesuaikan menjadi saat sahur dan berbuka. Tapi memang ada juga obat yang memang harus diminum dalam interval ketat yang tidak bisa dirubah. Nah, di sinilah pentingnya konsultasi dan penyesuaian medis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....