Literasi Digital Bukan Sekadar "Melek" Teknologi

  • 09 Feb 2026 14:58 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Di era modern yang serba cepat, istilah "literasi" telah mengalami pergeseran makna yang signifikan. Pakar pendidikan dan teknologi, Prof. DR. Ir Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A.,M.Phil., M.A, memberikan pandangan baru mengenai makna literasi digital bagi masyarakat modern. Dalam Kanal Youtube TV Andi Beliau menjelaskan bahwa literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis di atas kertas seperti pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Saat ini, literasi digital sering kali disalahartikan hanya sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat keras atau aplikasi. Padahal, menurut Prof. Eko, definisi sempit tersebut sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi tantangan dunia maya yang semakin kompleks dan penuh risiko.

Beliau memperkenalkan istilah Digital Quotient (DQ) atau kecerdasan digital sebagai tingkatan yang lebih tinggi. Kecerdasan ini melibatkan etika digital, budaya digital, hingga keamanan digital agar pengguna tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga bijak secara perilaku.

Dalam hal pengasuhan, Prof. Eko menekankan bahwa orang tua memegang peranan kunci sebagai model perilaku bagi anak. Beliau mengingatkan agar orang tua tidak hanya bisa memarahi anak yang kecanduan ponsel, sementara mereka sendiri tidak bisa lepas dari layar saat sedang bersama keluarga.

Salah satu tips menarik yang dibagikan beliau adalah pentingnya orang tua menguasai literasi teknis sederhana. Misalnya, orang tua sebaiknya tahu cara mengganti kata sandi Wi-Fi di rumah agar bisa mengatur jadwal akses internet anak secara lebih efektif dan mandiri.

Bagi para guru, beliau menantang agar metode pemberian tugas mulai diubah seiring dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI). Guru harus mampu menciptakan soal yang menuntut orisinalitas, seperti tugas melakukan wawancara langsung atau proyek sosial yang tidak bisa dikerjakan oleh robot.

Terakhir, Prof. Eko menegaskan bahwa pendampingan anak di bawah usia 17 tahun dalam berinternet adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Mitigasi risiko di dunia digital harus dilakukan sejak dini agar anak-anak tidak terekspos konten yang belum sesuai dengan usia mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....