Laut Jadi Jalan Utama Warga Pulau Panjang Kerdau
- 05 Mei 2026 19:33 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID.Natuna -Interaksi warga Pulau Panjang dan Pulau Kerdau, Kecamatan Pulau Panjang, telah terjalin erat sejak lama. Dua pulau yang berada di tengah laut lepas itu tak hanya terhubung secara geografis, tetapi juga oleh hubungan sosial, ekonomi, hingga pendidikan yang saling bergantung.
Kehidupan masyarakat di kedua pulau berjalan berdampingan. Aktivitas perdagangan, pendidikan, hingga hubungan kekeluargaan membentuk ikatan yang kuat di antara warga. Namun, di balik kedekatan itu, tersimpan tantangan besar yang harus dihadapi setiap hari.
Keterbatasan infrastruktur dan sarana transportasi menjadi hambatan utama. Kondisi alam, khususnya pasang surut air laut, turut menentukan apakah aktivitas warga dapat berjalan atau justru terhenti.
“Kami di Pulau Panjang dan Kerdau sangat bergantung pada kondisi air laut dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” ujar Camat Pulau Panjang, Said Muhtar di Kantor Bupati Natuna, Selasa 4 Mei 2026.
Ia menjelaskan, warga harus menyesuaikan waktu bekerja, berdagang, hingga bersekolah dengan kondisi laut. Ketika air surut, akses menjadi sangat terbatas, sementara saat air pasang, mobilitas sedikit lebih mudah.
Kondisi ini bahkan dialami oleh para pelajar. Anak-anak sekolah tingkat SD hingga SMP harus menempuh perjalanan dengan risiko tinggi demi menuntut ilmu.
“Kalau air surut, anak-anak berjalan kaki menyeberangi laut. Tapi kalau pasang, mereka menggunakan pompong,” ungkap Said.
Jarak antara Pulau Panjang dan Pulau Kerdau mencapai sekitar 2,2 kilometer. Saat air surut, sekitar 500 meter di antaranya menjadi perairan dangkal yang tidak dapat dilalui perahu, sehingga memaksa warga berjalan kaki di tengah laut.
Tak hanya itu, keterbatasan fasilitas juga menjadi persoalan serius. Tidak adanya pelabuhan atau pelantar membuat warga harus turun langsung di laut saat hendak naik atau turun dari perahu.
“Kapal hanya bisa merapat saat air pasang sempurna. Itu pun kami tetap harus turun di laut karena tidak ada tempat bersandar,” jelasnya.
Meski penuh risiko, warga tetap menjalani aktivitas tersebut demi memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ancaman bahaya terus mengintai, terutama bagi anak-anak.
“Kami khawatir dengan ikan lepuk yang berbisa. Pernah ada anak sekolah yang terkena, itu sangat berbahaya,” tambahnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kecamatan Pulau Panjang berharap adanya perhatian serius dari pemerintah untuk menghadirkan solusi nyata, khususnya pembangunan infrastruktur pendukung.
“Kalau belum bisa membangun jembatan, setidaknya ada pelantar agar warga tidak perlu turun ke laut. Kami berharap segera ada solusi demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Said.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....