Tradisi “Bantan” di Natuna: Seserahan untuk Guru Ngaji pada Khataman Al-Quran

  • 12 Jun 2026 12:05 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, NATUNA- Warga Natuna, Kepulauan Riau, masih menjaga tradisi turun-temurun yang mulai langka. Salah satunya adalah membuat beberapa jenis kue berukuran besar sebagai isian “Bantan” atau istilah untuk seserahan yang bisa diberikan kepada guru ngaji pada acara khataman Al-Quran.

Merangkum dari beberapa sumber, Bantan atau Bendan adalah miniatur menyerupai rumah kecil atau panggung hias yang berfungsi sebagai wadah sesaji atau tempat meletakkan berbagai jenis makanan khas dalam tradisi Khatam Al-Qur’an. Di Kabupaten Natuna biasanya Bantan berisikan kue tradisional seperti kue cincin, kue bangkit, kue nastar, dan kue bohulu yang ukurannya lebih besar dari biasanya.

Bagi masyarakat Natuna, Bantan bukan sekadar wadah kue. Ini bentuk penghormatan dan terima kasih murid kepada guru yang telah menuntun mereka menamatkan 30 juz Al-Quran.

“Bantan itu wajib ada pas anak khatam. Itu tanda syukur kita ke guru ngaji. Dulu saya khatam juga dikasih Bantan sama orang tua. Rasanya nastar biasa, tapi maknanya besar, karena ini bentuk adab murid ke guru,” ujar Ibu Zuraida, warga Serantas. Jumat, 12 Juni 2026.

Kata "Bantan" dalam bahasa Melayu Natuna berarti "bungkusan besar" atau "oleh-oleh besar". Filosofinya: sebesar apa pun ilmu yang diberikan guru, balas budi murid harus sebesar Bantan juga.

“Ini warisan budaya Natuna yang punya nilai. Ada hormat ke guru, ada rasa syukur, ada ekonomi kerakyatan. Kalau diganti kado modern, ceritanya hilang,” jelasnya.

Di era serba praktis, Bantan jadi bukti bahwa jati diri orang Natuna belum luntur. Satu potong Bantan rasanya manis, tapi ceritanya jauh lebih manis: tentang ilmu, adab, dan syukur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....