DKPP Natuna Siapkan 38 Ribu Bibit, Petani Masih Hadapi Ancaman Hama

  • 17 Sep 2026 21:30 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID. Natuna : Pemerintah Kabupaten Natuna melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus mendorong pengembangan tanaman perkebunan melalui penyediaan bantuan bibit dan pupuk organik bagi kelompok tani. Sekretaris DKPP Kabupaten Natuna, Isniadi, .mengatakan penyediaan bibit saat ini sudah dalam proses dan dilakukan di wilayah Kabupaten Natuna, tepatnya di Kecamatan Bunguran Selatan.

Menurutnya, total bibit yang disiapkan mencapai sekitar 38 ribu bibit, yang juga disertai dengan bantuan pupuk organik untuk mendukung proses penanaman dan pertumbuhan tanaman. Isniadi menjelaskan, sebelum bantuan disalurkan, DKPP terlebih dahulu melakukan proses verifikasi di lapangan. Verifikasi dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan dan kondisi kelompok penerima bantuan.

“Untuk penyediaan bibit sudah proses. Bibitnya dilakukan di Natuna, di Kecamatan Bunguran Selatan, dengan total bibit sekitar 38 ribu dan ada juga bantuan pupuk organik,” ujar Isniadi.

Ia mengatakan, verifikasi lapangan dilakukan terhadap sejumlah titik yang telah disiapkan. Dari sekitar 30 lubang tanam yang menjadi bagian dari proses pemeriksaan, nantinya verifikasi keseluruhan dilakukan secara sampel sesuai mekanisme yang ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, DKPP masih menemukan sejumlah kendala, khususnya berkaitan dengan percepatan persiapan lahan dan pembuatan lubang tanam oleh petani.

Isniadi menyebut, berdasarkan data yang dimiliki DKPP, terdapat sekitar 497 petani yang menjadi bagian dari proses tersebut. Namun, sebagian petani belum terbiasa melakukan persiapan lubang tanam dalam waktu yang relatif cepat. Ia menambahkan, pemerintah pusat memberikan dasar perhitungan bantuan tenaga kerja atau HOK untuk pembuatan lubang tanam. Nilainya disebut mencapai sekitar Rp120 ribu per HOK, sehingga proses persiapan lahan perlu dilakukan sesuai ketentuan agar program dapat berjalan.

DKPP, kata Isniadi, akan terus mendampingi petani di lapangan untuk mengatasi berbagai kendala yang muncul selama proses persiapan hingga penanaman. Sementara itu, petani Desa Air Lengit, Udin Syaudin, mengatakan salah satu kendala utama dalam kegiatan penanaman adalah gangguan hama, terutama babi hutan dan monyet.

Menurut Udin, bantuan bibit yang diberikan pemerintah dinilai cukup baik dan dapat membantu petani. Namun, keberadaan hama menjadi persoalan yang sulit dicegah karena dapat merusak tanaman maupun lahan yang telah dipersiapkan.

Udin menyebut, kelompoknya telah menyiapkan lahan sekitar setengah hektare untuk kegiatan penanaman. Dari 17 anggota kelompok, terdapat tujuh orang yang ikut mengambil bagian dalam program penanaman kelapa tersebut. Ia berharap pemerintah juga memberikan dukungan untuk pengendalian hama, karena kerusakan akibat babi hutan dan monyet dapat membuat petani mengalami kerugian waktu maupun biaya.

“Bukan tidak mau menanam, tetapi kami terkendala hama. Bedengan yang belum ditanam saja bisa digali dan dirusak lagi oleh babi hutan,” kata Udin Rabu 16 September 2026

Udin berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah sehingga bantuan bibit yang telah disiapkan dapat dimanfaatkan secara optimal . Disamping itu tanaman yang diolah petani bisa tumbuh hingga menghasilkan.

Program bantuan bibit tidak hanya membutuhkan kesiapan bibit dan lahan, tetapi juga kesiapan petani dalam melakukan penanaman serta pengendalian organisme pengganggu tanaman. Karena itu, pendampingan dan verifikasi lapangan menjadi bagian penting agar bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat maksimal bagi kelompok tani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....