Terapi Kesehatan Mental Menurut Cendekiawan Muslim Abad Ke-9

  • 29 Jul 2026 08:33 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Seorang cendekiawan Muslim dari abad ke-9 bernama Al-Balkhi sudah membahas mengenai kesehatan mental Jauh sebelum ilmu pengetahuan bidang psikologi berkembang seperti sekarang. Abu Zaid Al Balkhi (850-934) adalah cendekiawan polymath yang terkenal pada zaman keemasan Islam.

Al-Balkhi dikenal karena kontribusinya dalam bidang psikologi dan kesehatan mental bahkan dianggap jadi salah satu peneliti paling awal yang fokus pada kedokteran psikosomatis. Karyanya yang berjudul "Masalih al-Abdan wa al-Anfus" (Pemeliharaan Tubuh dan Jiwa) banyak membahas tentang kesejahteraan fisik dan mental, pemahaman bahwa masalah kesehatan bisa bersumber dari psikologis maupun fisiologis dan pentingnya kesejahteraan emosional dalam kesehatan secara umum.

Melansir dari National Library of Medicine, berikut terapi kesehatan mental menurut Al-Balkhi, yang terbagi berdasarkan permasalahan mental yang dialami seseorang.

Gangguan Kecemasan (Al-Jaza)

Gangguan kecemasan dideskripsikan ketika seseorang mengalami kekhawatiran, ketakutan dan rasa gelisah yang berlebihan. Dalam menangani hal ini, Al-Balkhi berpendapat dengan menerapkan restrukturisasi kognitif untuk merombak pola pikir irasional dan menjaga tubuh tetap aktif lewat olahraga, melatih relaksasi, mengonsumsi makanan sehat, serta membangun interaksi sosial yang positif juga menjadi pilar penting dalam meredakan kecemasan

Depresi (Al-Huzn)

Depresi biasanya ditandai dengan kesedihan yang berlangsung terus-menerus dan berkepanjangan, hilangnya rasa tertarik pada hal-hal yang biasanya disukai, serta penurunan energi yang membuat tubuh cepat lelah.

Untuk membantu memperbaiki suasana hati ada beberapa langkah yang bisa diterapkan. Salah satunya adalah melalui terapi kognitif guna merombak pola pikir negatif. Selain itu imbangi juga dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan, rutin berolahraga, menjaga pola makan yang sehat, serta membangun hubungan sosial yang positif.

OCD (Al-Waswasah)

Ciri seseorang mengalami gangguan OCD ditandai dengan adanya pikiran mengganggu yang muncul secara terus-menerus (obsesi), serta dorongan untuk melakukan perilaku tertentu secara berulang-ulang (kompulsi).

Al-Balkhi menjelaskan langkah untuk menyelesaikan hal ini yaitu, dimulai dengan mengenali dan menata ulang pola pikir yang irasional. Selanjutnya pasien akan dihadapkan secara bertahap pada situasi yang memicu rasa takut sembari melatih diri untuk mencegah munculnya perilaku obsesif berulang.

Trauma dan Stress

Trauma dan stres sebenarnya dua hal yang saling berkaitan erat. Kedua kondisi ini merupakan bentuk dampak psikologis dari pengalaman traumatis yang memicu rasa tidak nyaman atau distres hingga akhirnya mengganggu fungsi kehidupan kita sehari-hari. Terapi yang disarankan antara lain, pendampingan bantuan psikologis hingga penggunaan terapi kognitif-perilaku untuk memproses kembali ingatan traumatis. Langkah ini juga perlu diperkuat dengan metode pengelolaan stres yang tepat, serta dukungan sosial dari lingkungan sekitar.

Gangguan Psikosomatis

Dalam kondisi psikosomatis keluhan fisik yang sering dirasakan sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis. Saat pikiran merasa tertekan tubuh akan memberikan respons nyata lewat gejala-gejala fisik.

Untuk menyelesaikan hal ini, Al-Balkhi menyarankan penanganannya psikosomatis secara menyeluruh perlu menyentuh aspek fisik maupun mental. Langkah yang bisa dilakukan mencakup penggunaan terapi kognitif agar mampu mengelola stress, menerapkan perubahan gaya hidup seperti menyesuaikan pola makan dan aktivitas serta rutin menerapkan teknik relaksasi untuk mengurangi stress.

Melankolia

Menurut Al-Balkhi kondisi melankolia ditandai dengan ciri depresi berat seperti hadirnya rasa kesedihan yang mendalam, yang disertai dengan hilangnya rasa senang maupun ketertarikan terhadap hal-hal dalam hidup. Langkah awal dimulai dengan belajar mengenali dan mempertanyakan pikiran-pikiran yang pesimis. Kemudian penting juga untuk melakukan aktivitas yang disukai, menjaga kebugaran lewat olahraga, serta menciptakan lingkungan sosial yang positif dan suportif.

(Sumber: National Library of Medicine)

BACA JUGA: 29 Mei Menjadi Hari Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Muhammad Al Fatih

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....