Bulimia, Gangguan Makan yang Perlu Diwaspadai sejak Dini

  • 14 Agt 2026 19:08 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan : Bulimia merupakan gangguan makan sekaligus kelainan mental yang serius dan dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis. Kemenkes menjelaskan, bulimia ditandai dengan pola makan berlebihan dalam waktu singkat atau binge eating, yang kemudian diikuti perilaku untuk mengeluarkan atau “membersihkan” makanan karena takut mengalami kenaikan berat badan.

Kondisi tersebut dapat membentuk siklus yang berulang. Seseorang dapat mengalami rasa lapar, stres, atau kesedihan yang mendorong makan secara berlebihan. Setelah itu, muncul rasa bersalah atau malu sehingga melakukan tindakan tertentu untuk mencegah kenaikan berat badan.

Penyebab pasti bulimia hingga kini belum diketahui. Namun, Kementerian Kesehatan menyebut sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko, di antaranya riwayat gangguan makan dalam keluarga, depresi, kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, tekanan mengenai bentuk dan berat badan, serta tuntutan untuk memiliki tubuh sangat langsing.

Gejala bulimia antara lain makan dalam jumlah sangat banyak dan tidak terkontrol, kemudian berusaha memuntahkan makanan, menggunakan obat pencahar, atau melakukan olahraga secara berlebihan. Penderita juga dapat memiliki ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan dan sangat kritis terhadap bentuk tubuhnya.

Jika berlangsung terus-menerus, bulimia dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Gejala fisik yang dapat muncul antara lain kelelahan, gangguan gigi akibat paparan asam lambung, bau mulut, nyeri tenggorokan, kulit dan rambut kering, kuku rapuh, gangguan menstruasi, kram otot, hingga gangguan pada jantung, ginjal, dan saluran pencernaan.

Diagnosis bulimia dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan melihat kebiasaan makan, kondisi psikologis, serta kondisi kesehatan dan berat badan seseorang. Karena penderita sering merasa sulit untuk mengungkapkan masalahnya, dukungan keluarga atau orang yang dipercaya menjadi penting agar penderita bersedia mendapatkan bantuan. Penanganannya dapat meliputi terapi perilaku kognitif, pengaturan pola makan, penanganan gangguan mental yang menyertai, serta perawatan kesehatan gigi.

Kemenkes mengingatkan pentingnya membangun pola makan sehat dan lingkungan sosial yang mendukung sebagai bagian dari pencegahan bulimia. Masyarakat juga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki bentuk tubuh yang beragam dan tidak seharusnya menjadi sumber tekanan. Dengan mengenali tanda-tandanya dan mencari bantuan profesional lebih awal, risiko komplikasi akibat bulimia dapat ditekan dan kualitas hidup penderita dapat ditingkatkan.(Sumber.Kemenkes)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....