Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Perlu di Jaga

  • 17 Agt 2026 19:28 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan : Menjalankan peran sebagai pekerja sekaligus mengurus keluarga dapat menjadi tantangan bagi sebagian perempuan. Kemenkes mengatakan ketika tuntutan pekerjaan dan keluarga sama-sama tinggi, sementara waktu, energi, dan dukungan terbatas, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko psikososial yang berdampak pada kesehatan mental pekerja perempuan.

Konflik antara pekerjaan dan keluarga atau work-family conflict dapat terjadi ketika tuntutan salah satu peran membuat seseorang kesulitan menjalankan peran lainnya. Misalnya, pekerja harus menyelesaikan tugas setelah kurang tidur karena merawat anak yang sakit, atau meninggalkan pekerjaan karena ada anggota keluarga yang membutuhkan perawatan. Situasi tersebut dapat semakin berat apabila tidak disertai pembagian tanggung jawab dan waktu istirahat yang cukup.

Kemenkes menjelaskan, risiko psikososial di tempat kerja dapat berupa beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, hubungan kerja yang buruk, diskriminasi, pelecehan, hingga minimnya dukungan dari atasan maupun rekan kerja. Pada sebagian pekerja perempuan, tekanan dapat bertambah karena masih besarnya tanggung jawab dalam pengasuhan, perawatan keluarga, dan pekerjaan rumah tangga.

Jika berlangsung terus-menerus, tekanan tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Dampaknya antara lain stres berkepanjangan, kecemasan, suasana hati menurun, kelelahan emosional, gangguan tidur, sakit kepala, nyeri otot, hingga gangguan pencernaan. Kemampuan bekerja juga dapat menurun, ditandai dengan sulit berkonsentrasi, berkurangnya motivasi, serta meningkatnya risiko melakukan kesalahan.

Beberapa tanda perlu diwaspadai, seperti merasa kewalahan, cemas, sedih atau mudah tersinggung hampir setiap hari, tidur terganggu, energi menurun, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami keluhan fisik berulang. Kemenkes menganjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila keluhan berlangsung selama dua minggu atau lebih, semakin berat, atau mulai mengganggu pekerjaan, perawatan diri, dan hubungan dengan orang lain.

Untuk menjaga kesehatan mental, pekerja perempuan dapat menentukan prioritas, membagi tanggung jawab dengan pasangan atau anggota keluarga, menyediakan waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas fisik, serta menjaga pola tidur dan makan yang sehat. Penting pula mengenali batas kemampuan diri dan tidak ragu meminta bantuan ketika beban mulai sulit dikelola.

Kemenkes menegaskan, menjaga kesehatan mental pekerja perempuan bukan hanya tanggung jawab individu. Dukungan keluarga dan lingkungan kerja juga sangat diperlukan melalui pembagian beban yang adil, budaya kerja yang saling menghargai, fleksibilitas kerja bila memungkinkan, serta akses terhadap konseling atau pelayanan kesehatan. Dengan dukungan tersebut, perempuan dapat menjalankan peran pekerjaan dan keluarga secara lebih sehat dan berkelanjutan. (Sumber.Kemenkes)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....