​Risiko Serangan Jantung Usia Muda di Balik Lifestyle

  • 31 Jan 2026 07:10 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Penyakit jantung biasanya identik dengan orang tua. Kini, kenyataan berkata lain. Di balik gaya hidup modern, ada risiko serangan jantung yang menghantui generasi muda.

Dilansir situs keslan.kemkes.go.id, serangan jantung terjadi ketika aliran darah yang mengandung oksigen ke otot jantung mengalami gangguan atau terhenti secara tiba-tiba. Gangguan ini disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak, yang terdiri dari lemak, kolesterol, dan zat lainnya.

Proses ini dikenal sebagai aterosklerosis. Apabila plak tersebut pecah, dapat menyebabkan pembekuan darah yang menghalangi aliran darah normal ke otot jantung. Akibatnya, terjadi kerusakan atau bahkan kematian pada jaringan otot jantung.

Serangan jantung tak lagi menunggu manusia menginjak usia tua, justru bisa datang lebih cepat dari perkiraan. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa kasus mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dengan total jumlah kasus mencapai 1,5%.

Baca Juga: Ibu Hamil Pantang Makan Ikan Asin-Nanas? Ini Faktanya

Berdasarkan kelompok usia, persentase kasus penyakit jantung pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 2,4 %, kelompok usia 35-44 tahun sebesar 1,3 %, dan kelompok usia 25-34 tahun mencapai 0,8 %.

Serangan jantung pada usia muda menjadi perhatian serius di bidang kesehatan. Studi Lu dkk., (2022) menganalisis data dari 2.264 orang berusia 18 hingga 55 tahun yang dirawat inap akibat serangan jantung.

Selain itu, studi tersebut menemukan bahwa terdapat sejumlah faktor risiko yang secara ilmiah terbukti signifikan menyebabkan serangan jantung pada usia muda yang sebagian besar berkaitan dengan gaya hidup atau lifestyle, antara lain:

1. Diabetes

Diabetes meningkatkan risiko serangan jantung karena dapat merusak pembuluh darah dan saraf, menyebabkan peradangan, dan memicu penumpukan plak pada dinding arteri.

2. Depresi

Depresi dapat mempengaruhi gaya hidup, seperti kurangnya aktivitas fisik, kecenderungan merokok, serta memicu perubahan biologis yang dapat merusak fungsi jantung. Tak hanya itu, depresi dapat menyebabkan peningkatan faktor risiko lain, seperti tekanan darah tinggi.

3. Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi membebani jantung karena memaksanya bekerja ekstra untuk memompa darah. Pada jangka panjang dapat merusak arteri dan meningkatkan risiko serangan jantung.

4. Merokok

Rokok mengandung zat kimia yang dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), dan memicu peradangan. Nikotin dalam rokok juga dapat menyempitkan pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan mengurangi jumlah oksigen yang sampai ke jantung sehingga meningkatkan risiko serangan jantung.

5. Riwayat keluarga

Jika ada riwayat serangan jantung dalam keluarga, terutama pada orang tua atau saudara kandung, risiko seseorang untuk mengalami serangan jantung juga meningkat. Faktor genetik dan faktor gaya hidup yang dapat diwariskan, seperti kebiasaan makan dan tingkat aktivitas fisik, dapat berkontribusi pada peningkatan risiko ini.

6. Kolestrol tinggi

Kolesterol tinggi, khususnya kadar LDL yang tinggi, dapat menyebabkan penumpukan plak pada dinding arteri. Plak ini dapat menghalangi aliran darah ke jantung sehingga menyebabkan serangan jantung.

Gejala Serangan Jantung

Gejala serangan jantung pada usia muda mungkin tidak selalu menunjukkan gejala khas layaknya kelompok lansia seperti nyeri dada kiri. Beberapa gejala lainnya yang bisa saja terjadi antara lain nyeri atau ketidaknyamanan di bagian atas tubuh, lengan, leher atau punggung, sesak napas, mual dan muntah, kelelahan berlebihan, dan pusing atau pingsan.

Oleh karena itu, langkah sehat diperlukan demi mencegah serangan jantung yang penting diketahui kelompok usia muda, antara lain:

1. Periksa kesehatan secara rutin seperti mengukur tekanan darah, kadar gula darah, dan kadar kolesterol dalam tubuh

2. Menghindari rokok dan alkohol

3. Berolahraga secara teratur, minimal 30 menit per hari atau 150 menit per minggu dengan olahraga intensitas sedang

4. Kelola stres dengan melakukan meditasi, melatih berpikir positif, atau melakukan hobi yang menyenangkan

5. Terapkan diet sehat jantung seperti tinggi serat, rendah lemak, kaya akan omega 3, dan batasi konsumsi garam serta daging merah.

6. Jaga berat badan ideal

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....